Untuk penanganan masyarakat terdampak, kata Bupati Raymundus, sejumlah titik pengungsian dan posko tanggap darurat telah didirikan. Posko tidak hanya dibangun pemerintah, tetapi juga secara mandiri oleh masyarakat di sejumlah desa.
Bupati Raymundus juga menyoroti kerusakan rumah warga, termasuk rumah adat yang memiliki nilai budaya dan sosial yang sangat penting bagi masyarakat Ngada.
Penanganan rumah adat menjadi tantangan tersendiri karena proses pembangunan maupun pemulihannya tidak dapat dilakukan secara sederhana dan membutuhkan perhatian khusus.
Data Dampak Gempa di Ngada
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Ngada per 20 Agustus 2026, terdapat 6.898 rumah penduduk terdampak, 1.770 kepala keluarga mengungsi karena rumah mengalami kerusakan berat.
Sementara 1.438 rumah mengalami rusak sedang, 3.440 rumah rusak ringan, dan 250 rumah belum memiliki keterangan tingkat kerusakan berdasarkan laporan masyarakat dan desa/kecamatan. Kerusakan rumah tersebar di 12 kecamatan.
Para pengungsi juga tersebar di 12 kecamatan dan sebagian masih mengungsi secara mandiri maupun tinggal di rumah keluarga.
Untuk pengungsian, terdapat Posko Utama Kabupaten Ngada di Kantor BPBD sebagai pusat informasi, koordinasi dan logistik.
Selain itu, terdapat posko pengungsi KODIM 1625/Ngada yang berada di Posko Paroki St. Petrus Riung, Posko Desa Aimere Timur, Posko Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat dan Posko Desa Waesae, Kecamatan Aimere.
Jumlah pengungsi pada posko KODIM 1625/Ngada masih dalam proses pemutakhiran.
Pengungsian terpusat tercatat sebanyak 57 titik dengan jumlah 73 KK dan 2523 jiwa di Kecamatan Riung.
Lokasi yang tercatat antara lain Desa Tadho Induk 4 titik, Desa Tadho Tengah 3 titik, Desa Tadho Timur 4 titik, Desa Sambinasi 2 titik, Desa Sambinasi Barat 2 titik, Desa Sambinasi Tengah 1 titik.
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










