“Ada satu lembaga yang melakukan survei tentang IQ bangsa ini.Kita sangat rendah, IQ kita tidak sampai 80. Tahun ini 2026, anggaran pendidikan kita itu Rp754 triliun. Kalau itu semua diberikan kepada pendidikan maka pendidikan kita sudah maju,” ungkapnya.
Melki mengatakan, pendidikan itu ada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi dan ada 3 faktor di dunia pendidikan yakni siswa, guru dan sekolah atau sarana dan pra sarananya.
Apabila angaran pendidikan dipergunakan dengan baik untuk mengatasi 3 faktor ini maka mestinya kita tidak mengalami hal-hal yang dialami oleh guru-guru yang bukan ASN.
Ia mencontohkan, di luar negeri tidak ada perbedaan. Guru ASN dan Non ASN sebab guru ya guru,semua harus mendapatkan fasilitas yang sama sedangkan di Indonesia guru masih dibeda-bedakan.
“Kalau dibilang kalau guru dari swasta itu kan harus dibayar sama yayasan. Di Jakarta yang sekolah-sekolah Katolik yang dulunya top sekarang banyak yang terseok-seok. Karena persaingannya terlalu kuat,” ucapnya.
Perjuangan Nasib Guru Honor
Sebagai anggota DPR RI Dapil NTT 1 yang meliputi Kabupaten Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat, Melchias Markus Mekeng pun selalu turun ke daerah pemilihannya.
Dalam setiap reses saat tatap muka di sekolah, dirinya melihat langsung kondisi fasilitas pendidikan dan mendengar langsung keluh kesah guru honorer.
Melki pun mengumpulkan 200 guru honor dari berbagai wilayah di Kabupaten Sikka dalam acara penyerapan aspirasi masyarakat terkait pemenuhan hal dasar warga negara menurut UUD 1945.
“Saya beberapa kali, kunjungan kerja, pasti yang selalu bertanya guru-guru honor.Ada yang gajinya Rp300 ribu dan Rp500 ribu per bulannya.Bayarnya pun tiga bulan sekali kalau ada dana, kalau tidak ada dana ya tidak dibayar,” sesalnya.
Melki mengaku sedih juga dengan kondisi ini melihat gaji guru termasuk dosen yang jauh dari kata layak bahkan ada yang tidak sesuai Upah Minimum Regional (UMR) di daerah.
Ia mencontohkan 2 tenaga ahli di fraksinya yang menjadi dosen di universitas swasta dan mendapatkan gaji Rp3 juta dan satunya Rp5 juta per bulan karena ada tambahan jam mengajar.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










