Tapi lebih dari itu, acara ini menjadi momentum dan pintu masuk kebangkitan masyarakat terutama perempuan lokal Ile Bura. Serentak menjadi momen penting refleksi tentang peran perempuan masa kini.
Perempuan Penjaga Budaya sekaligus Pelaku Ekonomi Kreatif
Anastasia bilang, jika Kartini dulu berjuang melalui tulisan dan gagasan, perempuan Ile Bura kini berjuang menjaga budaya lokal.
Para ibu PKK, penenun, dan pelaku UMKM adalah Kartini masa kini yang menghidupkan semangat emansipasi melalui karya-karya nyata.

Kata Anastasia, dengan semangat Kartini, masyarakat Ile Bura berdiri tegak sebagai penjaga budaya sekaligus pelaku ekonomi kreatif. Makanan lokal dan tenunan lokal bukan hanya simbol, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian dan kebanggaan daerah.
“Perempuan memiliki peran penting dalam membentuk pola konsumsi keluarga. Memilih makanan lokal dan tenunan lokal, perempuan sesungguhnya sedang mendidik generasi muda untuk mencintai budaya sendiri,” katanya.
Anastasia mengatakan, peringatan dan perayaan Hari Kartini di Ile Bura tahun ini memberi pesan jelas, yakni mencintai produk lokal adalah bentuk nyata perjuangan Kartini di era modern di tengah gempuran barang COD.
Masyarakat senantiasa diajak untuk kembali menoleh pada makanan dan tenunan lokal yang menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi.
Anastasia tegaskan, bahwa semangat Kartini bukan hanya tentang emansipasi perempuan, tetapi juga tentang keberanian menjaga jati diri bangsa.
“Perempuan adalah benteng pertama dalam menjaga identitas budaya. Kita mulai dari rumah, dari pilihan makanan dan pakaian yang kita gunakan. Hari ini perempuan-perempuan hebat Ile Bura membuktikan itu,” katanya.
Camat Yohanes Kowa Kleden bersama masyarakat terlihat begitu bergembira merayakan Hari Kartini tahun ini meski masih berada di tengah bencana erupsi Gunung Lewotobi yang terus menerus mengancam.
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










