Perencanaan Strategis dan ‘Proses Menjadi’ (Sisip Gagas untuk Artikel Vinsensius Crispinus Lemba) - FloresPos Net - Page 2

Perencanaan Strategis dan ‘Proses Menjadi’ (Sisip Gagas untuk Artikel Vinsensius Crispinus Lemba)

- Jurnalis

Jumat, 10 Oktober 2025 - 07:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Filsafat pendidikan mengajarkan bahwa pendidikan merupakan proses menjadi manusia. Atau, proses memanusiakan manusia.

Perencanaan yang baik berangkat dari pertanyaan tentang ‘makna hidup’. Ia menjawab kebutuhan manusia untuk tumbuh, berpikir, dan berbuat baik. Tanpa pertanyaan tentang ‘makna hidup’ ini, strategi kehilangan jiwanya.

Perencanaan strategis juga menyangkut ‘relasi antar manusia’. Di sini, beberapa tuntutan dibutuhkan. Ia menuntut dialog. Ia menuntut keterlibatan. Ia menuntut tanggung jawab bersama.

Dalam filsafat pendidikan, relasi ini disebut ‘praksis’. Praksis adalah tindakan sadar yang lahir dari refleksi. Dari perspektif ini, ‘praksis adalah pendidikan yang hidup’.

Baca Juga :  Menuju Penyatuan Cakrawala

Ketika lembaga menyusun strategi, ia sedang menyusun arah hidup bersama. Ketika individu menyusun strategi, ia sedang menyusun arah hidup pribadi.

Dalam filsafat pendidikan, keduanya saling terkait. Sebab, sejatinya pendidikan adalah gerakan kolektif yang berakar pada kesadaran personal.

Perencanaan strategis yang berpijak pada filsafat pendidikan akan melahirkan ‘ekosistem belajar yang manusiawi’. Ia akan melahirkan budaya berpikir. Ia akan melahirkan semangat bertumbuh. Ia akan melahirkan arah hidup yang bermakna.

Baca Juga :  Quo Vadis Pendidikan Dasar Indonesia?

Strategi adalah cara kita memahami pendidikan. Ia menunjukkan arah, nilai, dan keyakinan yang membentuk proses menjadi manusia.

Dan, perencanaan strategis yang jernih menuntun kita merawat karakter, membangun kesadaran, dan menumbuhkan kebijaksanaan. Sementara itu, pendidikan bukan soal alat, tetapi soal makna dan tujuan hidup.

Di titik simpul dan juga persimpangan ini, mungkin benar kata-kata Paulo Freire: “Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia, dan manusialah yang mengubah dunia.” *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Berita ini 119 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA