Filsafat pendidikan mengajarkan bahwa pendidikan merupakan proses menjadi manusia. Atau, proses memanusiakan manusia.
Perencanaan yang baik berangkat dari pertanyaan tentang ‘makna hidup’. Ia menjawab kebutuhan manusia untuk tumbuh, berpikir, dan berbuat baik. Tanpa pertanyaan tentang ‘makna hidup’ ini, strategi kehilangan jiwanya.
Perencanaan strategis juga menyangkut ‘relasi antar manusia’. Di sini, beberapa tuntutan dibutuhkan. Ia menuntut dialog. Ia menuntut keterlibatan. Ia menuntut tanggung jawab bersama.
Dalam filsafat pendidikan, relasi ini disebut ‘praksis’. Praksis adalah tindakan sadar yang lahir dari refleksi. Dari perspektif ini, ‘praksis adalah pendidikan yang hidup’.
Ketika lembaga menyusun strategi, ia sedang menyusun arah hidup bersama. Ketika individu menyusun strategi, ia sedang menyusun arah hidup pribadi.
Dalam filsafat pendidikan, keduanya saling terkait. Sebab, sejatinya pendidikan adalah gerakan kolektif yang berakar pada kesadaran personal.
Perencanaan strategis yang berpijak pada filsafat pendidikan akan melahirkan ‘ekosistem belajar yang manusiawi’. Ia akan melahirkan budaya berpikir. Ia akan melahirkan semangat bertumbuh. Ia akan melahirkan arah hidup yang bermakna.
Strategi adalah cara kita memahami pendidikan. Ia menunjukkan arah, nilai, dan keyakinan yang membentuk proses menjadi manusia.
Dan, perencanaan strategis yang jernih menuntun kita merawat karakter, membangun kesadaran, dan menumbuhkan kebijaksanaan. Sementara itu, pendidikan bukan soal alat, tetapi soal makna dan tujuan hidup.
Di titik simpul dan juga persimpangan ini, mungkin benar kata-kata Paulo Freire: “Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia, dan manusialah yang mengubah dunia.” *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende
Halaman : 1 2










