Biopolitik dan Pangan: Tubuh Rakyat dalam Genggaman Negara - FloresPos Net - Page 2

Biopolitik dan Pangan: Tubuh Rakyat dalam Genggaman Negara

- Jurnalis

Minggu, 28 September 2025 - 11:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polykarp Ulin Agan

Polykarp Ulin Agan

Ironi pun menyeruak. Program yang dirancang untuk menyehatkan generasi muda justru menjadi sebab mereka terkapar. Intervensi negara yang diharapkan melindungi, ternyata mencederai warganya yang paling rentan. Tragedi ini menguak kerentanan sistem: koordinasi yang lemah, pengawasan mutu yang longgar, serta ketiadaan mekanisme tanggung jawab yang jelas.

Dalam dunia kebijakan publik, niat tidak pernah cukup; sistemlah yang harus bekerja—terutama ketika yang dipertaruhkan adalah keselamatan anak-anak.

Foucault mengingatkan, saat negara mulai mengatur tubuh dan kehidupan, setiap kegagalan bukan sekadar kesalahan administratif, tetapi krisis kekuasaan. Negara tak hanya bertanggung jawab atas regulasi, tetapi atas tubuh-tubuh yang menjadi objek regulasi itu sendiri.

Baca Juga :  Menjadi Guru di Indonesia "Hidup Diantara Cinta dan Diskriminasi" Kebijakan Pemerintah (Sebagai Refleksi Hari Guru)

Dalam setiap keputusan yang menyentuh aspek biologis warga, yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas birokrasi, melainkan legitimasi moral dari kekuasaan itu sendiri.

Program makanan bergizi menjadi contoh paling konkret bagaimana negara ingin hadir sejak awal kehidupan: dari masa kandungan, bangku sekolah dasar, hingga masa remaja.

Negara ingin memastikan rakyatnya sehat, produktif, dan siap menyumbang pada pembangunan. Namun ketika pengawasan dan distribusi gagal, yang lahir bukan kemaslahatan, tetapi luka.

Tubuh sebagai Medan Kuasa: Dari Statistik ke Tanggung Jawab

Kita patut bertanya: Di mana proses uji kelayakan makanan dilakukan? Bagaimana kontrol kualitas disusun dan dijalankan? Siapa yang bertanggung jawab? Apakah benar tubuh anak-anak ini hanya dianggap sebagai data statistik yang bisa dikoreksi dalam laporan akhir tahun?

Baca Juga :  Memutus Rantai TPPO NTT (Sebuah Ajakan Transformatif)

Lembaga-lembaga pengawas yang seharusnya menjadi penjaga garda depan justru kerap terjebak dalam formalitas birokratis dan tekanan politik.

Alih-alih preventif, pengawasan justru bersifat reaktif—bergerak hanya setelah tragedi terjadi. Ketika tanggung jawab terfragmentasi dan tak ada satu pun pihak yang berdiri di garis depan untuk menjawab, maka korban-korban kecil itu menjadi saksi bisu dari sistem yang gagal.

Berita Terkait

Demokrasi Desa yang Bermartabat
Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Berita ini 475 kali dibaca
REDAKSI: Kami Menerima Artikel Opini Dilengkapi Biodata Singkat dan Foto Penulis. Dikirim Melalui Email: florespos@yahoo.co.uk atau redflorespos@gmail.com.

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:08 WITA

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kuasa Hukum Pemilik Kos Tanggapi Pernyataan Satpol PP Ende

Jumat, 17 Jul 2026 - 20:12 WITA