Dalam versi idealnya, biopolitik adalah janji negara yang peduli pada kehidupan. Namun ia bisa berubah menjadi represi sunyi—ketika tubuh tak lagi menjadi subjek yang dihormati, melainkan objek kebijakan yang diatur dari atas.
Kita berutang perlindungan kepada anak-anak itu, bukan sekadar karena mereka masa depan bangsa, tetapi karena pada tubuh merekalah kekuasaan diuji dan ditakar.
Justru di sanalah letak paradoks biopolitik: ketika negara mengklaim melindungi, ia juga menentukan siapa yang layak dilindungi dan dengan cara apa. Anak-anak kerap dijadikan simbol moral, namun tak diberi ruang suara dalam kebijakan yang menyangkut hidup mereka.
Ketika pendidikan, kesehatan, bahkan cara bermain mereka ditentukan secara top-down, maka kepedulian bisa berubah menjadi dominasi yang halus dan senyap.
Negara harus mulai memandang kebijakan bukan sekadar sebagai janji politik, tetapi sebagai kontrak biologis dengan rakyat. Bila tubuh-tubuh kecil dapat menjadi korban dari ambisi besar, maka masalahnya bukan hanya terletak pada logistik, tetapi pada cara berpikir dan cara berkuasa.
Di hadapan luka ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: Dalam dunia di mana negara begitu kuat mengatur kehidupan, siapa yang menjaga kehidupan dari negara?
* Dr. Polykarp Ulin Agan, dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.










