Sebelum aksi seribu lilin dilaksanakan pembacaan doa oleh para pemuka agama yang dilanjutkan dengan renungan oleh Vikjen Keuskupan Maumere RP. Stefanus Buyung Florianus, O.Carm.
Kegiatan berlanjut dengan menyalakan lilin oleh semua peserta yang hadir dan dilanjutkan dengan pembacaan seruan kemanusiaan, hentikan kekerasan, dengar suara rakyat.
Dalam seruan yang dibacakan oleh seorang biarawati mewakili berbagai organisasi yang tergabung dalam Komunitas Nian Tana Untuk Indonesia tersebut dikatakan, hari-hari ini, hati kita kembali tercabik oleh berita duka.
Komunitas Nian Tana menyebutkan, demonstrasi yang seharusnya menjadi saluran aspirasi hati nurani rakyat, sekali lagi harus berujung pada hilangnya nyawa manusia yang tidak ternilai harganya.
“Satu nyawa melayang adalah satu luka mendalam bagi kita semua dan kepada keluarga korban yang berduka, kami warga Nian Tanah Sikka turut merasakan kepedihan yang kalian alami dan semoga kalian diberikan ketabahan dan keikhlasan,” sebut mereka.
Komunitas Nian Tana mengatakan, kini kami rakyat Nian Tana Sikka, didorong oleh keinginan luhur, penuh keprihatinan dan rasa kemanusiaan yang mendalam menuntut dan menyerukan,mengutuk segala bentuk kekerasan sebab kekerasan melanggar hak asasi manusia.
Semua pihak, baik pengunjuk rasa maupun aparat keamanan, untuk mengedepankan jalur damai dan dialog. Senjata, pentungan, dan batu hanya melahirkan luka baru dan dendam yang berkepanjangan.
“Menuntut transparansi dan akuntabilitas sehingga negara terutama pemerintah wajib membentuk tim investigasi independen untuk menelusuri secara transparan penyebab terjadinya pelanggaran HAM yang menelan korban,” tegas mereka.
Komunitas Nian Tana untuk Indonesia menyebutkan, korban berjatuhan baik masyarakat sipil maupun aparat, pengrusakan fasilitas umum, penjarahan dan pembakaran, dan proses penegakan hukum tanpa impunitas.
Mereka mendesak pemerintah untuk membuka ruang dialog yang luas, inklusif, dan bermartabat dengan seluruh elemen masyarakat. Dengarkanlah keluh kesah rakyat, bukan dengan ancaman, tetapi dengan empati dan niat tulus untuk mencari solusi bersama.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










