Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial - FloresPos Net - Page 2

Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial

- Jurnalis

Minggu, 31 Agustus 2025 - 18:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Namun koreksi simbolik ini tidak serta-merta memulihkan kepercayaan publik. Masyarakat kini lebih kritis dan sadar akan pola-pola manipulasi citra. Mereka menuntut tindakan nyata, bukan sekadar gestur politik. Di era digital, transparansi dan konsistensi menjadi mata uang baru legitimasi. Tanpa itu, setiap langkah partai hanya akan dianggap sebagai strategi bertahan, bukan transformasi.

Penonaktifan ini bukan hanya soal disiplin partai. Ini adalah cermin dari tarik-menarik antara kekuasaan dan suara publik. Masyarakat kini lebih vokal. Mereka menuntut akuntabilitas dan etika.

Baca Juga :  Perpustakaan, Literasi dan Transformasi Sosial

Tekanan publik yang semakin kuat menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi puas dengan janji politik yang abstrak. Mereka menuntut transparansi, konsistensi, dan keberpihakan nyata terhadap kepentingan rakyat. Media sosial, ruang komunitas, dan gerakan sipil menjadi alat kontrol baru yang efektif. Dalam sudut pandang ini, kekuasaan dipaksa untuk lebih responsif, atau kehilangan legitimasi.

Demokrasi Indonesia sedang berubah. Legitimasi politik tak lagi hanya soal pemilu. Tapi juga soal nurani publik yang terus mengawasi.

Baca Juga :  Sepak Bola sebagai Medium Pembangunan Sosial dan Keadilan Wilayah

Perubahan ini menandai lahirnya demokrasi yang lebih partisipatif. Rakyat tidak hanya memilih, tetapi juga mengawal, mengkritik, dan menuntut transparansi setiap saat. Media sosial, forum warga, dan gerakan sipil menjadi alat kontrol baru. Suara publik bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu arah politik yang lebih bermoral dan berkeadilan.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Berita ini 137 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA