Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial - FloresPos Net - Page 2

Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial

- Jurnalis

Minggu, 31 Agustus 2025 - 18:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Namun koreksi simbolik ini tidak serta-merta memulihkan kepercayaan publik. Masyarakat kini lebih kritis dan sadar akan pola-pola manipulasi citra. Mereka menuntut tindakan nyata, bukan sekadar gestur politik. Di era digital, transparansi dan konsistensi menjadi mata uang baru legitimasi. Tanpa itu, setiap langkah partai hanya akan dianggap sebagai strategi bertahan, bukan transformasi.

Penonaktifan ini bukan hanya soal disiplin partai. Ini adalah cermin dari tarik-menarik antara kekuasaan dan suara publik. Masyarakat kini lebih vokal. Mereka menuntut akuntabilitas dan etika.

Baca Juga :  Ratusan Kardinal Siap Ikuti Konklaf di Kapela Sistina Vatikan, Selamat Datang Paus ke-267: Habemus Papam

Tekanan publik yang semakin kuat menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi puas dengan janji politik yang abstrak. Mereka menuntut transparansi, konsistensi, dan keberpihakan nyata terhadap kepentingan rakyat. Media sosial, ruang komunitas, dan gerakan sipil menjadi alat kontrol baru yang efektif. Dalam sudut pandang ini, kekuasaan dipaksa untuk lebih responsif, atau kehilangan legitimasi.

Demokrasi Indonesia sedang berubah. Legitimasi politik tak lagi hanya soal pemilu. Tapi juga soal nurani publik yang terus mengawasi.

Baca Juga :  Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja

Perubahan ini menandai lahirnya demokrasi yang lebih partisipatif. Rakyat tidak hanya memilih, tetapi juga mengawal, mengkritik, dan menuntut transparansi setiap saat. Media sosial, forum warga, dan gerakan sipil menjadi alat kontrol baru. Suara publik bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu arah politik yang lebih bermoral dan berkeadilan.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 140 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA