Kekayaan Alam dan Ancaman Kedaulatan - FloresPos Net - Page 2

Kekayaan Alam dan Ancaman Kedaulatan

- Jurnalis

Senin, 25 Agustus 2025 - 12:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pascual Semaun, SVD

Pascual Semaun, SVD

Cadangan tambang, hutan tropis, energi bersih, dan biodiversitas Indonesia sangat bernilai di tengah krisis iklim dan transisi energi global. Dalam konteks geopolitik, potensi ini bisa menjadi kekuatan nasional—atau justru menjadi pintu masuk dominasi asing.

Kebijakan ekspor bahan mentah yang belum terintegrasi dengan hilirisasi, kemudahan investasi yang terlalu longgar, hingga luasnya konsesi lahan kepada korporasi asing menunjukkan adanya potensi pergeseran kendali sumber daya yang pelan tapi pasti bisa mengikis kedaulatan.

Pertanyaannya sederhana: siapa yang paling diuntungkan dari kekayaan alam Indonesia? Rakyat, negara, atau investor luar?

Baca Juga :  Pemimpin yang Memerdekakan

Kembali ke Kedaulatan

Belajar dari Venezuela, Indonesia perlu meninjau ulang arah kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Isu ini tidak boleh sekadar dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus dikembalikan pada prinsip kedaulatan dan keadilan sosial.

Tanah, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya bukan sekadar aset ekonomi, melainkan fondasi keberlanjutan bangsa. Jika kendali atas kekayaan alam jatuh ke tangan luar, maka kedaulatan hanya tinggal simbol—sementara arah pembangunan ditentukan oleh kepentingan lain di luar kontrol rakyat.

Baca Juga :  Guruku Sayang, Baikmu Hanya "Mimpi"

Indonesia membutuhkan visi jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya. Tidak cukup hanya dengan menarik investor; kita harus memastikan bahwa setiap tetes hasil bumi betul-betul memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. *

Penulis: Imam Katolik yang berkarya di Paraguay, Amerika Latin; aktif dalam isu kemanusiaan dan masalah-masalah sosial; Ketua Koordinasi Pastoral Sosial di Keuskupan Canindeyu, Paraguay.

Berita Terkait

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Berita ini 264 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Empat Pesan Gubernur NTT Terkait Idul Adha 1447 Hijriah

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:57 WITA

Opini

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA