Oleh: Ansel Atasoge
AGUSTUS ke-80 bukan sekadar angka. Ia adalah jejak waktu yang telah mengukir kisah piluh dan mengagumkan, derap kaki para pejuang dan bisikan doa para ibu bangsa.
Dan, kini delapan dekade telah berlalu sejak kisah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 itu menggema. Kisah itu telah membebaskan bangsa dari belenggu kolonialisme. Ya…belenggu yang bukan hanya merampas tanah, tetapi juga martabat dan makna hidup.
Namun, kisah kemerdekaan bukanlah titik akhir. Ia adalah awal dari sebuah ziarah panjang menuju keutuhan diri sebagai bangsa.
Dan dalam ziarah itu, kita belajar bahwa Indonesia bukan satu wajah, melainkan seribu wajah yang saling menatap, saling menyapa, saling menguji. Ziarah yang membentang dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia adalah paradoks yang indah: satu dalam banyak, banyak dalam satu. Bahasa, agama, adat, dan sejarahnya membentuk mozaik yang tak pernah selesai.
Di sanalah letak keindahannya serentak penanda identitasnya. Orang-orang yang saban hari bergumul dalam aliran filsafat eksistensial pernah katakana bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis. Ia sesuatu yang terus diperjuangkan.
Dalam konteks ini, identitas dan keindahan Indonesia merupakan proyek keberadaan yang terus-menerus (satu dalam banyak, banyak dalam satu) dibentuk oleh dialog-dialog yang tak berkesudahan.
Namun, ketika dialog digantikan oleh despotisme tafsir dan ketika hermeneutika dikunci dalam satu kebenaran tunggal, maka paradoks yang indah itu berubah menjadi ancaman.
Bisa jadi pluralitas dipandang sebagai ‘anak cacat’ yang jauh panggang dari derajat kemanusiaan. Jika demikian, maka kita sedang membuang jauh kata-kata Emmanuel Levinas: wajah yang lain bukanlah musuh, melainkan panggilan etis untuk bertanggung jawab.
Mengibarkan merah putih dan membaca ulang naskah proklamasi di Hari Kemerdekaan 17 Agustus adalah ritual. Tapi spirit tujuhbelasan adalah refleksi. Ia mengajak kita untuk menimba makna terdalam dari kemerdekaan. Bukan sekadar bebas dari penjajahan. Tetapi bebas untuk menjadi manusia seutuhnya. Bebas untuk berpikir, untuk percaya, untuk mencinta, dan untuk bersahabat.
Agustus ke-80 kalinya adalah momen untuk bertanya: apakah kita sudah merdeka dari fanatisme, dari kebencian, dari obsesi akan homogenitas? Apakah kita sudah cukup dewasa untuk menerima bahwa kebenaran bisa hadir dalam banyak rupa, dan bahwa Tuhan bisa dijumpai dalam banyak jalan?
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, persahabatan lintas iman dan budaya bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Persahabatan yang demikian dan yang selalu terarah pada yang sejati adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas sosial.
Ia tidak menuntut keseragaman. Lebih dalam dari itu: merayakan keberbedaan sebagai jalan menuju Yang Maha Esa. Merayakan ketujuh-belasan (dalam pelbagai bentuk dan rupanya, dari pusat hingga ke RT/RW) dari sudut pandang ini mengajak kita untuk membumikan spiritualitas sosial tersebut.
Serentak itu pula, umat beragama yang membumikan spiritualitas itu dipanggil untuk menjadi umat yang wasathiyah—umat yang adil, seimbang, dan bijak. Boleh jadi, panggilan itu berwujud dalam etika publik yang berakar pada solidaritas, kerja sama, dan dialog persaudaraan. Dua jalan yang berbeda, namun menuju satu tujuan: kesejahteraan universal dan keadilan sosial.
Dalam bingkai tersebut, delapan puluh tahun bukan hanya tentang waktu panjang yang membuat kita bertahan, tetapi tentang jejak bertumbuhnya kita sebagai bangsa yang berperadaban.
Peradaban yang bersahaja, yang menghidupi semangat fratelli tutti—bahwa kita semua bersaudara. Peradaban yang tidak dibangun di atas dominasi, tetapi di atas kasih dan pengertian.
Dan di sinilah tema besar “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” menemukan makna terdalamnya—bukan sekadar slogan, melainkan jiwa yang hidup dalam keseharian bangsa.
Nusantara yang benar-benar maju bukan hanya karena loncatan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi karena kedewasaan spiritual dan sosial yang memampukan kita untuk hidup dalam harmoni, saling menghormati, dan membangun bersama.
Indonesia yang dihormati bukan karena gerak ekspansi kekuasaan. Ia dihormati karena ketulusan dalam menyapa dengan wajah-wajah yang ramah, hati yang terbuka, dan semangat yang bersahabat dengan bingkai komunikasi yang komunikatif. Bukan menekan dengan prinsip ‘semau-gue’. Lebih dari itu, Indonesia akan menjadi bangsa yang besar karena mampu merangkul, bukan menaklukkan.
Karena itu, mari kita ‘gendong’ Indonesia bersama. Bukan sebagai beban yang membuat lengan-kaki-hati-budi kita ‘tabola bale’, tetapi ‘menggendongnya’ sebagai anugerah yang patut disyukuri.
Bukan pula sebagai proyek politik, tetapi sebagai ziarah spiritual yang berjalan sembari membumikan spiritualitas sosial di tengah keberbedaan tadi. Jadilah Indonesia yang berjiwa tujuhbelasan: merdeka, bersahabat, dan terbuka.
Akhirnya, jadilah Indonesia yang menyapa dunia dengan seribu wajah, namun tetap satu keluarga. Selamat ulang tahun ke-80, Indonesiaku.
Ad multos annos! Jadilah terang bagi dunia, dengan semangat ‘Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’.***










