MBAY, FLORESPOS.net-Pacuan kuda atau yang dikenal dalam bahasa Mbay sebagai Dhugu Jarang, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Kota Mbay sejak tahun 1960-an.
Ibrahim Bay, salah seorang mantan joki kuda, Senin (16/6/2025) mengenang kejayaan pacuan kuda di Kota Mbay pada tahun 1970-an.
Menurut Ibrahim Bay, putra asal Nggolo Mbay, lintasan pacuan kuda di Kota Mbay saat itu dimulai dari Waturedu, melewati depan Kantor DPRD, Jalan Pramuka, Gereja Centrum, dan kembali ke Waturedu sebagai garis finish.
Ia juga mengenang beberapa nama kuda pacu terkenal saat itu, seperti “Tenaga Baru”, “Gadis Desa”, dan “Adu Nasib”.
Pacuan kuda di Kota Mbay sempat berhenti total pada tahun 1978-1979 akibat bencana penyakit antraks dan surah yang menyebabkan banyak kuda mati.
Namun, tahun 2025 ini, pacuan kuda kembali dihidupkan. Ibrahim Bay sangat bersyukur dapat menyaksikan kembali acara yang sangat berarti bagi masyarakat Kota Mbay.
Ibrahim Bay yang oleh masyarakat setempat dikenal dokter tulang dan luka ini berharap agar pacuan kuda dapat terus menjadi bagian dari budaya Kota Mbay.
Dengan adanya rencana pembangunan bandara di Kota Mbay, ia berharap agar pacuan kuda tidak hilang dan dapat terus menjadi hiburan bagi masyarakat.
Ia juga mengenang kembali para joki beken saat itu, seperti Meka Mus Laga, Meka Zakaria Bi’a, dan Meka Thalib Baikara.
Pacuan kuda di Kota Mbay bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang berharga.
Ibrahim Bay mengenang kembali bagaimana kuda dipelihara dan dirawat dengan baik untuk persiapan pacuan kuda, dan bagaimana acara ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kota Mbay.*
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Willy Aran










