“Kita tahu sendiri, kolam renang Reworeke itu sangat terbatas jika dibandingkan dengan teman-teman negara lain,” katanya.
“Dengan fasilitas terbatas ini, kami latihan optimal hanya hari Kamis pagi, sorenya orang sudah ramai, Jumat air keruh, Sabtu airnya warna hijau, apalagi hari Minggu,” kata Dio.
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Ende melihat potensi anak-anak Ende yang menyukai renang dan membenahi fasilitas yang mendukung proses latihan.
Hal yang sama juga disampaikan oleh manajer tim renang Ende, Ribkah Eleonora Valentina. Ia ikut menyuarakan keluh-kesah anak-anak atlet renang dari Kabupaten Ende dan menceritakan perjuangan mereka dari Ende menuju Bangkok.
“Dari Ende ada 8 orang yang ikut. Syuradikara ada empat, salah satunya alumnus Syuradikara. Dan kami orang tua berusaha, lalu dalam perjalanan waktu Tuhan tempatkan orang-orang baik membantu kami,” katanya.
Ia menyebutkan mendapatkan dukungan secara pribadi dari para donatur seperti Gubernur NTT terpilih, Melki Laka Lena, Yudah Adranatus (alumnus Syuradikara), Stefano Adranatus, Jibri Haron (kakak dari Bram Watik), dan dukungan dari keluarga besar anak-anak para atlet renang.
“Untuk itu semua, kami sangat bersyukur karena Tuhan menyediakan lebih,” katanya.
Ia berharap supaya Pemerintah Kabupaten Ende, bahkan Pemprov Nusa Tenggara Timur, bisa memperhatikan harapan anak-anak.
“Setidaknya, kolam renang Roworeke bisa jadi 50 meter,” harapnya.
Untuk diketahui, pada 6-9 Februari 2025, para atlet renang dari Ende dan Maumere mengikuti Asian Open School Invitation (AOSI), Swimming Championship Bangkok 2025 di Bangkok, Thailand.
Mereka berhasil menorehkan prestasi di level internasional dengan membawa pulang satu medali emas, 2 perak, dan 3 perunggu.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










