Pengelolaan Makanan Berkontribusi Hingga 57 Persen untuk Pemanasan Global - FloresPos Net

Pengelolaan Makanan Berkontribusi Hingga 57 Persen untuk Pemanasan Global

- Jurnalis

Rabu, 10 Januari 2024 - 21:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RUTENG, FLORESPOS.net –  Dalam banyak penelitian tingkat dunia diketahui bahwa kontribusi pemanasan global dari sistem pengelolaan makanan mencapai 44-57 persen.

Pemateri ahli Rm. Fery Sutrisna Wijaya dalam sidang pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, Flores, NTT, Selasa (9/1/2024) membeberkan data sumber yang menyebabkan terjadinya pemanasan global yang dampaknya dirasakan juga Indonesia dan Manggarai raya ini.

Yang mencegangkan dari data-data itu bahwa ternyata 44-57 persen pemanasan global akibat gas rumah kaca dari  sistem pengelolaan makanan.

“Pengelolaan itu  mulai dari sistem pertanian dan peternakan industrial kimia sintetik,” katanya.

Lalu,  sistem pengemasan makanan, sistem penyimpanan dan pengawetan makanan, sistem transportasi makanan, termasuk deforestasi hutan untuk pertanian dan sistem pengolahan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan.

Dari mana angka 44-57 persen pengelolaan makanan menyebabkan pemanasan global?

Datanya 11-15 persen akibat penggunaan minyak dan gas di pertanian dan peternakan, energi fosil yg dipakai untuk menjalankan berbagai mesin dan peralatan.

Dan, pupuk berbasis energi fosil, termasuk limbah kotoran hewan yang menghasilkan gas metan dan gas nitrogen oksida ke udara dan lautan;

Baca Juga :  MPMX Perkuat Komitmen ESG Melalui Transplantasi Terumbu Karang, Dukung Pelestarian Laut dan Ekonomi Masyarakat di Labuan Bajo

Lalu, 15-18 persen akibat deforestasi untuk lahan pertanian dan peternakan. Pertanian kedelai GMO dan kelapa sawit GMO menyebabkan 70-90 persen deforestasi global.

Kemudian, 5-6 persen akibat transportasi makanan dan makanan impor; 8-10 persen akibat pengolahan pangan paska panen dan pengemasan makanan;

Dan, 2-4 persen akibat sistem penyimpanan dengan pendingin yang menghabiskan energi fosil; dan, 3-4 persen akibat membuang sisa makanan (30-50 persen makanan kita dibuang) ke tempat sampah dan bukan dijadikan kompos sehingga menyebabkan gas metan dan gas rumah kaca lainnya.

Romo Ferry mengatakan, solusi yang diusulkan adalah beralih ke pertanian organik yang menggunakan rotasi menanam dan sistem pemeliharaan hewan tradisional free range.

Hal itu mesti didukung kerjasama konsumen dan petani untuk menolak pertanian dan peternakan skala industri, benih GMO, makanan yang terkontaminasi bahan kimia sintetik dan didukung kebijakan publik dan investasi ramah lingkungan.

Kemudian, mempertahankan hutan dan lahan gambut yang menyimpan oksigen dengan menanam pohon sebanyak mungkin. Usaha reforestasi akan ikut menyediakan penghasilan untuk penduduk yang miskin dan pengangguran serta penduduk lokal.

Baca Juga :  Bupati Ngada Serahkan Bantuan untuk Umat Stasi Hobotopo

“Beralih ke pangan lokal yang diproduksi petani dan peternak lokal yang segar, tidak banyak kemasan dan langsung dari petani/peternak,” katanya.

Hal praktis lain, yakni membeli makanan segar yang tidak diawetkan dengan sistem pendingin yang menghabiskan energi fosil atau yang menggunakan energi terbarukan;

Meninggalkan kebiasaan makan makanan fast food, makanan yang kaleng dan yang diawetkan dan mengusahakan komposting terutama dari sisa makanan dan makanan yang terbuang.

Menurut Rm. Erik Ratu Pr, ketika itu Rm. Fery menekankan bahwa cara kita menyiapkan lahan, menanam, mengolah, kemasan, pengawetan, transportasi, dan seluruh kebiasaan makan kita harus beralih.

“Beralih dari pertanian atau peternakan industrial ke pertanian dan peternakan lokal organik yang didukung sistem ekonomi bukan kapitalis dan sistem politik yang mendukung pertanian lokal dan organik serta didukung konsumen,” katanya. *

Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Pemkab Sikka Tegaskan Tidak Pernah Melarang Penjualan BBM Eceran Untuk Kebutuhan Ekonomi Rumah Tangga
Puluhan Putra Terbaik Flobamora Jadi Pengurus DPD IKAL Lemhannas Provinsi NTT Periode 2026-2031
Kantor Pertanahan Nagekeo Genjot PTSL 2026 dan Pendaftaran Tanah Ulayat di Dua Desa
Keuskupan Maumere Siap Selenggarakan Kegiatan Nusra Youth Day Ketiga
BPOLBF dan BPS Manggarai Barat Perkuat Ekosistem Pariwisata Berbasis Data
Nusra Youth Day di Keuskupan Maumere Akan Dihadiri Ratusan OMK Dari 9 Keuskupan
Mediasi Pelapor dan Tersangka Oleh Polda NTT di Polres Sikka Terkait Perkara Pidana, Bukan Konflik Agraria
Mediasi dan Restorative Justice Gagal Capai Kata Sepakat, PT. Krisrama Siap Lanjutkan Proses Hukum
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:18 WITA

Pemkab Sikka Tegaskan Tidak Pernah Melarang Penjualan BBM Eceran Untuk Kebutuhan Ekonomi Rumah Tangga

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:39 WITA

Puluhan Putra Terbaik Flobamora Jadi Pengurus DPD IKAL Lemhannas Provinsi NTT Periode 2026-2031

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:52 WITA

Kantor Pertanahan Nagekeo Genjot PTSL 2026 dan Pendaftaran Tanah Ulayat di Dua Desa

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:15 WITA

BPOLBF dan BPS Manggarai Barat Perkuat Ekosistem Pariwisata Berbasis Data

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:01 WITA

Nusra Youth Day di Keuskupan Maumere Akan Dihadiri Ratusan OMK Dari 9 Keuskupan

Berita Terbaru

Opini

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:14 WITA