RUTENG, FLORESPOS.net-Membina siswa agar tidak merokok pada usia dini tidak mudah. Mengatasi kesulitan itu menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi lembaga pendidikan SMPK St. Fransiskus Ruteng, Manggarai, NTT.
Kata Kepala SMPK St. Fransiskus Ruteng, Rm. Ferdy Usman Pr pada pembukaan pameran kewirausahaan sebagai implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), di Ruteng, Rabu (17/5/2023).
Rm. Ferdy mengatakan, dalam penilaian untuk sekolah ini seperti raport, numerasi, dan karakter sekolah ini mengalami kenaikan yang bagus.
“Nilai yang bagus dan membanggakan. Tetapi, ada yang yang masih jadi PR, yakni keamanan sekolah dan perilaku yang belum bebas dari rokok,” katanya.
Dikatakan, dari aspek ini, nilainya belum bagus. Para siswa masih sulit untuk ditertibkan untuk mengurangi atau tidak merokok sama sekali.
Menurutnya, upaya telah banyak dilakukan agar anak-anak tidak merokok. Banyak sekali ajakan dan tulisan di sekolah yang melarang siswa agar tidak merokok.
Para guru juga harus menunjukkan teladan untuk tidak merokok di lingkungan sekolah. Dengan itu, anak-anak tidak melihat dan mengikutinya.
Upaya mendidik generasi untuk tidak merokok, demikian Rm. Ferdy, belum berhasil seperti diharapkan. Di sekolah dan asrama ada CCTV untuk memantau perilaku merokok anak-anak. Hasilnya, masih terekam siswa yang merokok.
Kadis Pendidikan Frans Gero mengatakan, perilaku merokok pada anak sekolah tidak boleh ditolerir. Merokok pada usia dini sangat tidak baik untuk kesehatan.
“Kalau anak-anak sekarang punya perilaku kurang sehat seperti merokok, minum mabuk, judi, dan lain-lain, maka bagaimana bisa mendapatkan bonus demografi tahun 2030 dan apalagi Indonesia Emas tahun 2045,” katanya.
Kadis Frans Gero mempunyai komitmen pribadi. Kalau menemukan siswa SMP merokok di jalan, dia akan menangkap dan membawanya ke orang tua dan ke sekolahnya.
Dan jika sudah tidak bisa diatur lagi, tandasnya, sekolah tidak ragu memberhentikannya dari sekolah.*
Penulis: Christo Lawudin / Editor: Wentho Eliando










