Oleh: Desiderius Dirmanus
PADA Jumat, 9 Oktober 2026, para romo, suster, frater, serta karyawan dan karyawati Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Nusa Tenggara Timur, berkumpul di Gua Maria Ritapiret untuk berdoa Rosario bersama. Komunitas ini menjalankan doa Rosario dua kali dalam sepekan, setiap Selasa dan Jumat.
Di tengah kesibukan pembinaan, studi, pelayanan, dan pekerjaan, mereka menyediakan waktu untuk berdoa bersama Bunda Maria. Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar berapa kali sebuah komunitas berdoa Rosario: Apakah orang yang tekun berdoa juga semakin mampu menghargai, mengampuni, dan melayani sesamanya?
Pertanyaan ini menjadi penting karena kesalehan tidak cukup ditunjukkan melalui kehadiran dalam kegiatan rohani. Kesalehan juga perlu terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.
Pengalaman doa Rosario komunitas di Ritapiret menawarkan ruang refleksi tentang hubungan antara devosi Maria, pembentukan iman, dan kehidupan sosial. Di sinilah praktik rohani yang tampak sederhana memiliki makna lebih luas bagi kehidupan Gereja.
Rosario Bukan Sekadar Pengulangan Doa
Bagi umat Katolik, Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario. Umat mendaraskan doa Salam Maria, Bapa Kami, dan Kemuliaan sambil merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus.
Kebiasaan ini telah menjadi bagian penting dari spiritualitas Katolik. Namun, umat perlu memahami tujuan dasarnya agar Rosario tidak berhenti sebagai rutinitas.
Paus Yohanes Paulus II menjelaskan hubungan tersebut dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae yang terbit pada 16 Oktober 2002. Ia menegaskan bahwa Rosario merupakan doa yang berpusat pada Kristus.
Melalui Maria, umat belajar memandang wajah Yesus dan merenungkan misteri keselamatan-Nya (Yohanes Paulus II, 2002, no. 1 dan 18). Penegasan ini penting untuk memahami doa Rosario di Ritapiret.
Ketika komunitas berkumpul di Gua Maria, mereka tidak hanya menyampaikan permohonan kepada Allah melalui perantaraan Bunda Maria. Mereka juga belajar mengenal Yesus, memahami cara hidup-Nya, dan mengikuti teladan-Nya.
Setiap misteri Rosario mengandung pesan yang relevan bagi kehidupan. Misteri kelahiran Yesus mengajarkan kesederhanaan dan keterbukaan terhadap kehendak Allah. Misteri pelayanan-Nya mengundang umat untuk melayani tanpa mencari pujian.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










