Doa Rosario perlu mendorong setiap anggota untuk menghargai pekerjaan orang lain, mendengarkan pendapat yang berbeda, menghindari perkataan yang merendahkan, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog. Persaudaraan tidak cukup dibicarakan dalam doa. Persaudaraan perlu diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari.
Tantangan Bagi Pembinaan Calon Imam
Bagi para frater, khususnya mereka yang berada pada tingkat akhir pembinaan, doa Rosario juga berkaitan dengan persiapan menuju pelayanan imamat. Pembinaan calon imam tidak cukup hanya mengembangkan pengetahuan teologi, kemampuan berkhotbah, dan keterampilan memimpin liturgi.
Pembinaan juga perlu membentuk hati yang peka terhadap kebutuhan manusia. Maria memberikan teladan melalui jawaban imannya kepada malaikat: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).
Jawaban tersebut menunjukkan kesediaan Maria untuk menerima kehendak Allah. Sesudah menerima kabar itu, Maria mengunjungi Elisabet dan hadir bagi saudarinya yang membutuhkan perhatian (Luk. 1:39–45).
Kedua peristiwa ini menunjukkan hubungan antara iman dan tindakan. Maria menerima kehendak Allah, lalu bergerak menjumpai sesama. Ia tidak menutup diri dalam pengalaman rohaninya. Teladan tersebut penting bagi calon imam.
Seorang frater tidak dapat membatasi kehidupan rohani pada kapel, kamar, buku teologi, atau kegiatan devosi. Spiritualitas harus membantunya menjadi pribadi yang mampu mendengarkan umat, memahami persoalan mereka, dan melayani tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial.
Di Ritapiret, para frater hidup bersama romo, suster, dan karyawan-karyawati. Relasi dalam komunitas ini menjadi bagian dari proses pembentukan. Cara seorang frater berbicara kepada sesama, menerima koreksi, menghargai pekerjaan orang lain, dan menyelesaikan konflik ikut memperlihatkan kematangan pribadinya.
Karena itu, doa Rosario dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa diri. Apakah saya semakin rendah hati? Apakah saya bersedia mengakui kesalahan? Apakah saya menghargai orang yang menjalankan pekerjaan sederhana? Apakah saya mampu melayani tanpa mengharapkan pujian? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi kesalehan seseorang.
Pertanyaan tersebut membantu calon imam memahami bahwa panggilan tidak hanya menuntut kemampuan berbicara tentang Kristus, tetapi juga kesediaan untuk menghadirkan kasih-Nya.
Menjaga Doa Agar Tidak Menjadi Rutinitas
Ada satu hal yang perlu diperhatikan. Frekuensi doa yang tinggi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kehidupan rohani seseorang telah matang. Orang dapat mengikuti doa secara teratur, tetapi masih perlu berjuang melawan egoisme, kemarahan, dan sikap tidak peduli.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










