ENDE, FLORESPOS.net-Fenomena antrean kendaraan mengular untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) seolah menjadi pemandangan klasik yang terus berulang bagi masyarakat Kota Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setidaknya itu yang terjadi dalam dua tahun terakhir (2025–2026).
Kondisi ini utamanya sering terlihat tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di dalam wilayah Kota Ende, yakni SPBU Mautapaga di Jalan Gatot Soebroto, SPBU Ndao, dan SPBU Jalan W.Z Yohanes.
Pada paruh kedua tahun 2025, krisis BBM sempat memuncak beberapa kali. Catatan Florespos.net, pada akhir September 2025, antrean kendaraan di SPBU Mautapaga terpantau mengular hingga satu kilometer karena keterlambatan pasokan yang dipicu oleh kendala logistik transportasi dari Maumere akibat longsor di kawasan Wolowaru.
Kelangkaan bahan bakar jenis Pertalite ini berlanjut hingga November 2025, memicu inspeksi mendadak (sidak) dari Pemerintah Kabupaten Ende untuk mendesak Pertamina mempercepat pengiriman kapal tanker pengganti.
Memasuki tahun 2026, masalah serupa ternyata belum sepenuhnya tuntas. Laporan dari Florespos.net pada akhir Juni 2026 menyebutkan bahwa antrean kendaraan kembali memadati sejumlah ruas jalan di sekitar SPBU Kota Ende.
Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM subsidi. Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) mengeluhkan terganggunya pendapatan mereka akibat waktu yang habis terbuang dalam antrean.
Fenomena antrean itu terjadi lagi di tiga SPBU dalam Kota Ende sejak Senin (12/10/2026) hingga Selasa (13/10/2026) siang.
Pihak SPBU yang dikonfirmasi media ini menyebutkan antrean itu terjadi karena keterlambatan pasokan BBM dan pengurangan kuota.
Salah seorang pengawas SPBU di Ende mengatakan sejak Sabtu (10/10/2026) mendapat pengiriman pertalite dari Maumere, Kabupaten Sikka. Pertalite yang diterima oleh SPBU sebanyak 8 KL.
“Sejak Sabtu kemarin kami dapat pasokan dari Maumere sebanyak 8 KL. Ini tentu kurang karena normalnya itu 16 KL,” kata Oktovianus Li, Pengawas SPBU 54.86.303 di jalan W.Z Yohanes, Kelurahan Paupire, Kota Ende.
Sementara pada hari minggu tidak pasokan maka saat hari senin terlihat ada antrean dengan kondisi stok yang tersedia sebanyak 8 KL
Pihak SPBU mengatakan tidak mengetahui secara alasan pasti terkait pengedropingan pertalite dari Maumere, Kabupaten Sikka.
“Kami tidak tahu pasti, yang disampaikan itu hanya alasan kapal terlambat ke terminal BBM Ende,” kata Oktovianus.
Fenomena ini memantik reaksi warga Ende. Warga khususnya pengendara di Kabupaten Ende mempertanyakan kondisi yang sering terjadi di SPBU di Kota Ende.
Antrean panjang yang terjadi hampir setiap hari ini dinilai sudah sangat meresahkan karena memicu kemacetan parah dan mengganggu aktivitas ekonomi warga.
“Sebenarnya ada apa, karena dua tahun terakhir sering antre. Kalau alasan masalah kapal, mengapa sampai saat ini belum bisa diselesaikan,” kata Anton G. Gadi.
Ia meminta agar lembaga DPRD Ende memanggil pihak Pertamina khususnya Terminal BBM Ende untuk menjelaskan kondisi ini. Jika kondisi ini dibiarkan maka masyarakat menjadi korban.
“DPRD Ende harus panggil dan minta penjelasan dari Pertamina, apa masalahnya sehingga dua tahun ini kita sering antre panjang dan sulit dapat BBM,” katanya.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










