LABUAN BAJO, FLORESPOS..net-DPRD Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar segera menyelamatkan tanaman pisang marmi serta pisang kepok di daerah itu, karena belakangan populasinya terancam punah akibat diserang penyakit.
Kedua tanaman salah satu sumber pangan dan ekonomi masyarakat setempat.
Demikian Wakil Ketua Dua DPRD Mabar, Sewargading S. J. Putera menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berselang.
Hal senada dilantangkan anggota DPRD Mabar yang lain, Martinus Mitar, yang saat itu bersama Sewargading S. J. Putera yang akrap disapa Gading.
Menurut Gading, kabar tentang hancurnya tanaman pasang marmi dan pisang kepok sudah lama melanda Mabar, bahkan seluruh Flores.
Kedua jenis pisang yang merupakan salah satu bahan utama pisang goreng, namun tahun-tahun terakhir kebanyakan buahnya rusak membusuk digerogot penyakit yang bersifat menular itu.
“Dikampung saya di Kenari, Desa Warloka, Kecamatan Komodo-Mabar, petani pisang setempat tahun-tahun terakhir kehilangan sumber pendapatan, khususnya dari pisang marmi serta pisang kepok, termasuk keluarga saya,” ujar Gading.
Sebelumnya, kata Gading, banyak petani di Warloka dan sekitarnya rajin menanam pisang, bahkan sampai membuat kebun pisang. Karena pisang marmi dan pisang kepok khususnya, adalah salah satu sumber pangan dan sumber uang.
Selain untuk makan, kedua jenis pisang tersebut dijual untuk dapatkan uang, sumber pendapatan keluar. Tetapi tahun-tahun terakhir kedua jenis pisang itu tidak bisa lagi menjadi sumber pangan dan sumber uang. Buahnya rusak akibat terserang penyakit.
Hal yang sama disuarakan Mitar. Keluarga besarnya, baik yang di Kecamatan Sano Nggoang dan Kercamataan Mbeliling, sarta Kecamatan Komodo (semuanya Mabar), tahun-tahun belakangan sudah kehilangan sumber pendapatan.
Mereka sepertinya tidak lagi merasakan enaknya makan pisang marmi/pisang kepok, juga kehilangan pendapatan dari hasil penjualan kedua jenis pisang itu karena buahnya rusak dan membusuk.
Di seluruh Manggarai Barat dan Flores umumnya, juga kabarnya mengalami nasib serupa terkait penyakit pisang marmi dan pisang kepok di tanah mereka.
Gading dan Mitar minta kepada Pemkab Mabar untuk segera menyelamatkan populasi pisang marmi dan pisang kepok setempat, supaya bebas dari penyakit, agar buahnya tidak rusak dan busuk.
Agar kelak sumber pangan dan uang dari komoditi ini tidak hilang. Pemkab dan DPRD Mabar perlu duduk dan bahas bersama terkait ini, termasuk bicara anggaran untuk yang satu ini.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT juga demikian. Jalankan tugas koordinatif agar semua Pemkab se-Flores mengambil tindakan serupa. Selamatkan tanaman pisang marmi-pisang kepok se-daratan Nusa Bunga-Flores, sebagai sumber pangan dan penopang ekonomi keluarga yang diwariskan leluhur.
Penyakit yang menyerang tanaman pisang marmi serta pisang kepok di Flores tahun-tahun terakhir kabarnya bersifat menular, kata Mitar dan Gading.
Apalagi era sekarang, pisang marmi serta pisang kepok menjadi sumber usaha. Kedua pisang antara lain bisa diolah jadi pisang goreng, keripik pisang, disamping untuk konsumsi keluarga, salah satu sumber pangan keluarga, kata keduanya.
Dilansir media ini sebelumnya, pulihkan populasi pisang kepok, butuh gerakan seluruh Flores.*
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










