Oleh: Anselmus DW Atasoge
DUA hari setelah gempa bumi mengguncang Flores dan merenggut korban jiwa, Keuskupan Agung Ende bergerak cepat. Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, resmi menerbitkan surat edaran bernomor 149/UAE/17082026 yang mengumumkan pembentukan Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores.
Langkah ini menjadi penegasan bahwa di tengah reruntuhan, tangan-tangan kemanusiaan tidak akan berhenti terulur.
Gempa bumi yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026 meninggalkan luka mendalam. Bangunan-bangunan runtuh. Keluarga-keluarga kehilangan orang yang mereka kasihi. Ribuan warga kini menghadapi malam-malam tanpa atap, tanpa kepastian.
Dalam suratnya, Mgr. Budi Kleden menyampaikan keprihatinan sekaligus doa bagi para korban. “Kita berdoa bagi para korban yang meninggal agar mereka diterima dalam kebahagiaan kekal dalam Tuhan, dan untuk keluarga yang ditinggalkan, agar mereka diberikan kekuatan dan penghiburan,” tulis Uskup Agung.
Ia mengajak seluruh umat untuk tidak larut dalam kepanikan, melainkan tetap menyalakan harapan untuk membangun kembali kehidupan dari puing-puing keputusasaan.
Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores KAE dipimpin oleh RD Reginald Piperno Bego sebagai Ketua, didampingi Klarita Julian Rembu One sebagai Sekretaris dan Sr. Kristina Ngura, CSV sebagai Bendahara.
Tim ini ditopang oleh koordinator lapangan di tiga kevikepan. RD Giovani Don Bosco Seso untuk Kevikepan Ende, RP Charles L. U. S. Ame Talu, OFM untuk Kevikepan Mbay, serta RD Florianus Ifan Dhendi untuk Kevikepan Bajawa.
Struktur ini dilengkapi divisi-divisi khusus yang menangani data dan asesmen, logistik dan distribusi, pendampingan pastoral dan pemulihan, media center, serta kesehatan. Pembagian tugas yang rinci menunjukkan keseriusan KAE dalam menangani bencana secara terstruktur dan terkoordinasi.
Posko utama berlokasi di Rumah Bina PSE Keuskupan Agung Ende, Jalan Durian No. 12, Kelurahan Mautapaga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende. Dari sinilah seluruh koordinasi dan penerimaan bantuan kemanusiaan dipusatkan. Untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, posko-posko tambahan didirikan di masing-masing kevikepan.
Di Kevikepan Ende, bantuan dapat disalurkan melalui Paroki St. Yosef Freinademetz Mautapaga dan Paroki St. Yohanes Paulus II Ropa. Di Kevikepan Mbay, posko berada di Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo dan Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Sementara di Kevikepan Bajawa, warga dapat mengakses Paroki MBC Bajawa dan Paroki St. Petrus dan Paulus Bekek. Mgr. Budi Kleden menegaskan agar paroki-paroki tidak lagi membuka posko bantuan secara mandiri.
Seluruh posko yang sudah terlanjur terbentuk diminta berkoordinasi dengan koordinator lapangan masing-masing kevikepan demi efektivitas penyaluran bantuan.
Saat ini, para korban sangat membutuhkan beras, telur, mie instan, minyak goreng, susu untuk bayi dan anak-anak, pampers bayi, obat-obatan, serta air minum kemasan. Setiap bungkus mie instan, setiap botol air yang tersalur, adalah satu napas harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya dalam hitungan detik.
Merujuk pada SK Gubernur Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berlaku 15–28 Agustus 2026, Mgr. Budi Kleden meminta agar perayaan Ekaristi di paroki-paroki dilaksanakan di tempat terbuka.
Pelayanan Sakramen Baptis, Komuni Pertama, dan Pernikahan dianjurkan untuk ditunda. Kerumunan besar di dalam gedung harus dihindari demi keselamatan bersama. Tentu saja, imbauan ini bukan pengurangan iman. Justru di bawah langit terbuka, di antara puing dan debu, doa-doa umat Flores akan bergema dengan kejujuran yang paling murni.
Di bagian akhir suratnya, Uskup Agung mengingatkan seluruh umat untuk bijak dan bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi terkait bencana.
Di era ketika ‘kabar bohong’ dapat menyebar lebih cepat daripada bantuan, setiap jari yang menahan diri dari membagikan informasi tak terverifikasi adalah jari yang melindungi sesama dari kepanikan.
Surat ini ditutup dengan ungkapan terima kasih kepada para imam, biarawan/biarawati, dan segenap umat beriman atas perhatian, kepedulian, dan kerja sama mereka.
Mgr. Budi Kleden memohon berkat Tuhan dan perlindungan Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda bagi seluruh umat. Flores sedang berduka. Namun dari Ende hingga Bajawa, dari Mbay hingga setiap pelosok paroki, satu pesan bergema jelas. Bahwasanya, tidak ada seorang pun yang akan dibiarkan menghadapi reruntuhan ini sendirian. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










