Oleh: Bayu Tonggo
MALAM itu, tiga pemuda duduk berbincang di bawah sebuah terpal berukuran sekitar 5 × 7 meter. Di sekeliling mereka, beberapa kelompok pemuda dan bapak-bapak tampak larut dalam percakapan masing-masing.
Sebagian bermain kartu, sebagian lainnya sekadar menikmati kopi dan cerita setelah makan malam bersama.
Suasana seperti itu bukanlah sesuatu yang istimewa bagi masyarakat Desa Tenda-Ondo, Kabupaten Ende, NTT. Biasanya, setelah sebuah acara atau kegiatan bersama selesai, orang-orang tidak langsung pulang. Mereka duduk, makan, berbincang, tertawa, dan membicarakan banyak hal.
Malam itu, mereka dipertemukan lewat acara peletakan batu pertama (leta batu) sebuah rumah di ujung desa yang berlangsung siang hari itu.
Namun, di antara percakapan ringan dan suara kartu yang sesekali beradu, tiga pemuda justru memperdebatkan sebuah pertanyaan yang bagi mereka tidak sederhana: mana yang seharusnya lebih dahulu hadir di desa – listrik, jalan, atau sinyal internet?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terdengar seperti percakapan receh yang tidak akan mengubah apa pun. Namun, di balik perdebatan tersebut tersimpan pengalaman panjang masyarakat tentang pembangunan yang mereka tunggu.
Tiga Pilihan, Tiga Alasan
Pemuda pertama memilih listrik. Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan dasar yang dapat mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.
Dengan adanya listrik, rumah-rumah dapat diterangi pada malam hari. Anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Peralatan rumah tangga pun dapat digunakan.
“Kalau sudah ada listrik, pasti ada kulkas, televisi, dan alat-alat rumah tangga lain yang membutuhkan arus listrik,” katanya.
Pemuda kedua tidak sependapat. Baginya, jalan harus menjadi prioritas. Jalan bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Jalan adalah akses.










