Malam itu, tiga pemuda memang hanya berbicara di bawah sebuah terpal berukuran 5 × 7 meter. Tidak ada mikrofon. Tidak ada pejabat. Tidak ada dokumen perencanaan. Tidak ada kamera yang merekam perdebatan mereka. Hanya ada percakapan sederhana tentang listrik, jalan, dan sinyal internet.
Namun, mungkin justru dari percakapan sederhana seperti itulah suara sebuah desa terdengar. Masyarakat tidak meminta kemajuan yang berlebihan. Mereka hanya tidak ingin terlalu lama tertinggal dari tempat lain.
Mereka juga tidak ingin harapan tentang jalan, listrik, dan jaringan internet menjadi cerita yang terus diulang saat makan, lalu perlahan menjadi basi karena terlalu lama menunggu.
Lebih dari itu, mereka tidak ingin penantian yang panjang membuat masyarakat terbiasa dengan keterbatasan dan akhirnya berkata, “untuk apa berharap? Pemerintah tidak akan mendengar.”
Pembangunan seharusnya tidak membentuk manusia yang pasrah terhadap keadaan. Sebaliknya, pembangunan harus membuat masyarakat semakin percaya bahwa harapan mereka layak diperjuangkan.
Dan dari ujung desa, di bawah terpal sederhana itu, tiga pemuda sedang mengingatkan kita pada satu hal: kemajuan tidak seharusnya hanya menjadi cerita tentang desa-desa lain. Kemajuan juga harus sampai ke desa kami. *
Penulis adalah Pemuda di Desa Tenda-Ondo dan Mahasiswa Magister Teologi IFTK Ledalero










