Dengan jalan yang baik, hasil pertanian masyarakat lebih mudah dibawa ke pasar. Orang dari luar desa lebih mudah datang. Potensi lokal yang selama ini hanya dikenal oleh masyarakat sendiri dapat diperkenalkan kepada orang-orang dari luar.
“Kalau jalan bagus, potensi kita bisa diakses dan dipromosikan ke luar desa,” ujarnya.
Pemuda ketiga memilih sinyal internet. Baginya, dunia sudah berubah. Kemajuan tidak lagi hanya diukur dari tersambungnya sebuah desa dengan jalan dan listrik. Akses internet juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat modern.

Sinyal internet, menurutnya, dapat membantu masyarakat menjadi lebih cakap secara digital. Anak-anak dapat mengakses bahan pembelajaran. Mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dan mengirim tugas tanpa harus mencari-cari tempat tertentu.
Pelaku usaha dapat memperkenalkan produknya melalui media digital. Potensi desa pun dapat dipromosikan kepada dunia tanpa harus menunggu orang datang langsung.
Tiga pemuda itu memiliki pilihan yang berbeda. Namun, sebenarnya mereka sedang berbicara tentang satu hal yang sama: kemajuan desa mereka. “Pemerintah Tidak Akan Dengar”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Dari kelompok lain, seorang bapak paruh baya menyela. “Buat apa kamu omong begitu? Pemerintah tidak akan dengar,” katanya.
Seorang pemuda yang berada tidak jauh dari mereka ikut menimpali. “Untuk apa terlalu banyak bicara? Tunggu tiang listrik, jalan beraspal, dan menara pemancar berdiri di sini. Setelah itu baru kita semangat bicara.” Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya: rasa lelah menunggu.
Sanggahan tersebut memperlihatkan bagaimana penantian yang terlalu panjang dapat perlahan-lahan mengubah cara seseorang memandang keadaan. Harapan yang terus ditunda dapat berubah menjadi sikap pasrah. Orang mulai merasa bahwa berbicara tidak ada gunanya karena keputusan pembangunan berada jauh di luar jangkauan mereka.










