Dulu, telepon genggam kadang harus diletakkan di tempat tertentu. Ada yang menaruhnya di dekat jendela, di dinding, atau di sudut rumah yang dianggap memiliki sinyal lebih baik. Bahkan, tempat-tempat tertentu seolah memiliki tanda tidak tertulis: “di sini ada sinyal.”

Kenangan seperti itu mungkin terdengar lucu jika diceritakan kepada masyarakat yang hidup di tengah jaringan internet yang semakin cepat dan mudah diakses. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, cerita itu merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah desa untuk terhubung dengan dunia.
Ketika Malam Menjadi Terang
Tidak lama setelah itu, harapan lain mulai terwujud. Pada akhir 2022, listrik akhirnya masuk ke Desa Tenda-Ondo, Watumite, Romarea, serta sebagian dari masyarakat di Desa Natatute dan Ondorea Barat.
Masyarakat menyambutnya dengan perayaan penyalaan listrik perdana. Ada kegembiraan yang sulit disembunyikan. Rumah-rumah yang selama bertahun-tahun hidup tanpa jaringan listrik akhirnya mendapatkan cahaya dari sumber energi yang lebih stabil.
Bagi sebagian orang, listrik mungkin merupakan sesuatu yang biasa. Lampu tinggal dinyalakan dengan menekan sakelar. Televisi dapat menyala. Kulkas dapat bekerja. Telepon genggam dapat diisi daya kapan saja. Namun, bagi masyarakat yang baru pertama kali merasakan hadirnya listrik secara lebih permanen, cahaya itu memiliki makna yang berbeda.
Mereka sedang merayakan sesuatu yang bagi masyarakat di tempat lain telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di situlah letak ironi pembangunan: sesuatu yang dianggap biasa oleh sebagian orang dapat menjadi peristiwa yang sangat berarti bagi orang lain.
Jalan yang Perlahan Mendekat
Setelah listrik, cerita tentang jalan pun mulai menemukan babak baru. Pada 2023, pengerjaan jalan pada rute Ondorea Barat – Romarea mulai dilakukan. Pada tahap itu, pembangunan jalan menjangkau wilayah Tenda-Ondo.
Meskipun belum sampai ke seluruh wilayah yang diharapkan, kehadirannya sudah memberikan harapan baru, terutama bagi masyarakat Tenda-Ondo, Watumite, dan Romarea yang menggunakan jalur tersebut.
Setahun kemudian, pada 2024, pengerjaan dilanjutkan dari wilayah Tenda-Ondo menuju bagian awal Desa Watumite. Jalan itu belum menjadi akhir dari penantian. Justru ia menjadi pengingat bahwa pembangunan merupakan proses yang harus terus dilanjutkan.










