Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak? - FloresPos Net

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Djoko Setijowarno

MENJADI guru di Indonesia berarti bertarung dengan ruang dan jarak. Dari kepungan macet kota hingga hingga jalur pedalaman yang ekstrem, dimensi mobilitas harian ini perlahan ikut menentukan kesejahteraan nyata seorang pendidik.

Kesejahteraan guru memiliki keterkaitan erat dengan layanan transportasi, baik secara langsung melalui aspek finansial dan fisik, maupun tidak langsung pada dimensi psikologis dan profesional.

Di Indonesia, isu mobilitas ini menjadi sangat krusial, khususnya bagi guru honorer berpenghasilan terbatas serta tenaga pendidik yang mengabdi di wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan).

Pendapatan bulanan guru sering kali tergerus oleh tingginya biaya mobilitas sehari-hari. Ketiadaan transportasi publik yang memadai dan terjangkau memaksa mereka beralih ke kendaraan pribadi, yang berujung pada membengkaknya pengeluaran untuk bahan bakar dan perawatan. Kondisi ini kian ekstrem di daerah terpencil.
Nihilnya angkutan perintis membuat ongkos perjalanan melambung tinggi hingga menghabiskan sebagian besar gaji atau tunjangan profesi mereka.

Baca Juga :  Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten

Oleh karena itu, penyediaan akses transportasi yang terjangkau secara tidak langsung akan mendongkrak pendapatan riil (disposable income) guru melalui pemangkasan biaya logistik pribadi.

Buruknya layanan transportasi, seperti kemacetan parah di perkotaan maupun rute ekstrem di pedesaan, menyerap waktu dan energi yang besar bahkan sebelum guru memasuki ruang kelas.

Perjalanan melelahkan selama berjam-jam dengan kondisi transportasi yang tidak kondusif ini membuat tenaga pendidik rentan tiba di sekolah dalam keadaan lelah secara fisik dan mental (burnout).

Ketika energi fisik sudah terkuras di jalan, kualitas mengajar, kesabaran dalam mendampingi siswa, hingga kreativitas menyusun materi pembelajaran otomatis ikut menurun.

Baca Juga :  Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya?

Di sinilah pentingnya transportasi yang andal menjadi garansi agar guru bisa tiba di sekolah dengan kondisi prima, siap memberikan energi terbaiknya untuk anak didik.

Guru honorer dengan pendapatan Rp 500 ribu – Rp 1,5 juta per bulan harus mengeluarkan 20% hingga 40% gajinya hanya untuk biaya bensin atau ojek online jika sekolah mereka tidak terjangkau angkutan umum.

Sementara, guru yang berada di daerah kepulauan (seperti Maluku, Maluku Utara atau NTT), biaya transportasi mingguan atau bulanan menggunakan speedboat atau sewa kendaraan darat ekstrem bisa memakan 50% lebih dari tunjangan terpencil mereka.

Berita Terkait

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA