Simfoni Kemanusiaan di Era Prestasi - FloresPos Net

Simfoni Kemanusiaan di Era Prestasi

- Jurnalis

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Polykarp Ulin Agan

DALAM masyarakat yang berorientasi pada prestasi, individu kerap dinilai berdasarkan keberhasilan akademik, ekonomi, atau profesional, sehingga martabat manusia sebagai pribadi (personhood) berisiko terabaikan. Ini bukanlah hal yang mustahil kalau melihat kenyataan zaman ini.

Orientasi berlebihan pada prestasi dapat menuntun manusia menjadi individu yang rentan terhadap alienasi—baik dari dirinya sendiri maupun dari komunitas—karena relasi menjadi instrumental dan kompetitif.

Dalam kajian Franz Willnauer tentang pribadi seorang Gustav Mahler di Wiener Hofoper dalam bukunya Gustav Mahler und die Wiener Oper (Gustav Mahler Dan Opera Wina, 2023), tampak jelas bahwa prestasi itu sering harus dibayar dengan harga yang mahal.

Mahler bukan hanya seorang komposer, tetapi juga direktur opera yang harus menavigasi persyaratan organisatoris dan keuangan yang ketat di Wina (Austria). Ia bekerja dalam sistem institusional yang menuntut efisiensi, disiplin waktu, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga :  Kita Ganjar Nusantara Pastikan Pasangan Ganjar-Mahfud Menang Satu Putaran

Di sinilah paradoks modernitas terlihat: manusia kreatif justru hidup dalam kerangka yang lebih mengutamakan stabilitas administratif daripada kebebasan berekspresi. Ketegangan antara kreativitas dan birokrasi pun muncul ke permukaan.

Mahler terjerat dalam sistem modern yang sering terlalu menuntut kepatuhan terhadap aturan administratif, sehingga ruang eksplorasi ide-ide baru dan spontanitas kreatif semakin terbatas. Kreativitas diarahkan untuk memenuhi target ekonomi atau institusional, bukan sebagai ekspresi bebas individu, sehingga nilai intrinsiknya berkurang.

Baca Juga :  Kumpul Kebo Dalam Perspektif Kristiani Menurut Ensiklik Familiaris Consortio

Namun, di balik struktur yang menekan itu, surat-surat pribadi Mahler menghadirkan sisi lain yang jauh lebih manusiawi. Dalam ruang privat, ia tampil sebagai sosok yang emosional, reflektif, bahkan rapuh. Di sana, ia tidak tunduk pada logika prestasi, melainkan bergulat dengan kompleksitas perasaan yang tidak pernah dapat diterjemahkan menjadi statistik.

Di sini Mahler memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa nilai seni tidak dapat diukur dengan angka, penghargaan, atau produktivitas, melainkan oleh kedalaman pengalaman emosional yang dihadirkan.

Simfoni Mahler menjadi contoh bahwa pengalaman manusia yang paling dalam sering kali hanya bisa diungkap melalui bentuk artistik, bukan melalui data atau ukuran objektif.

Berita Terkait

Bupati Ende Launching Pekan Street Festival Songsong Harla Pancasila
Doa Terakhir dari Para Kardinal untuk Paus Fransiskus
Longsor di Jalan Utama Borong-Bajawa, Akses Transportasi Dua Kabupaten di Flores Lumpuh Total
DPRD Nagekeo Umumkan Hasil Penetapan Bupati dan Wakil Bupati Terpilih
Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Manggarai Barat Gelar Rakerda
Bencana di Manggarai Barat Dominan Banjir dan Longsor
Kita Ganjar Nusantara Pastikan Pasangan Ganjar-Mahfud Menang Satu Putaran
Anas Urbaningrum, Pimpinan Parpol Pertama yang Kampanye di Onekore
Berita ini 118 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:05 WITA

Simfoni Kemanusiaan di Era Prestasi

Rabu, 21 Mei 2025 - 22:08 WITA

Bupati Ende Launching Pekan Street Festival Songsong Harla Pancasila

Sabtu, 26 April 2025 - 19:00 WITA

Doa Terakhir dari Para Kardinal untuk Paus Fransiskus

Kamis, 30 Januari 2025 - 11:12 WITA

Longsor di Jalan Utama Borong-Bajawa, Akses Transportasi Dua Kabupaten di Flores Lumpuh Total

Rabu, 15 Januari 2025 - 15:26 WITA

DPRD Nagekeo Umumkan Hasil Penetapan Bupati dan Wakil Bupati Terpilih

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Curi Kambing, 2 Kak Beradik dan 2 Teman Diamankan Polisi Nagekeo

Selasa, 28 Jul 2026 - 20:34 WITA

Opini

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:17 WITA