MBAY, FLORESPOS.net-Toga sudah dilepas. Ijazah INF angkatan pertama sudah di tangan. Teman-temannya sibuk lamar kerja, kirim CV, antre CPNS.
Alfian (23) pilih arah berbeda. Ia pulang ke kampung. Bawa ijazah, bawa ilmu, bawa cangkul.
“Saya alumni dari kampus Institut Nasional Flores (INF) angkatan pertama. Setelah wisuda saya kembali menjadi petani,” katanya sambil menunjuk kebun hortinya yang hijau.
Bagi sebagian orang, itu keputusan “mundur”. Sarjana kok jadi petani? Gengsi dong?
Alfian tidak berpikir begitu. Ia punya mimpi yang lebih besar dari gengsi, mengubah wajah petani di kampungnya. Selama ini orang hanya kenal padi. Sekali panen hanya beberapa karung saja tergantung ia tekun atau tidak tambah harga jatuh pas panen raya.
“Saya mimpi agar petani tidak hanya membudidayakan padi. Tapi horti,” ujarnya menambahkan hortikultura cabai, tomat, sayur daun, buah. “Tanam 3 bulan panen. Harga lebih stabil. Nilai jual lebih tinggi,” tambahnya.
Jalan itu tidak mulus. “Awal saya mulai gagal. Hama habis. Harga anjlok. Saya rugi,” akuinya jujur.
Tapi Alfian anak INF. Kampus wirausaha ajar dia satu hal gagal itu data, bukan vonis. Ia baca lagi, tanya penyuluh, coba varietas baru, atur jadwal tanam.
“Saya tidak putus asa. Saya terus mencoba.” ujarnya.
Hasilnya? Kebunnya sekarang jadi rujukan. Hasil sangat memuaskan. Uang hasil panen tidak hanya untuk jajan. Ia bisa bantu orang tua. Bangun rumah lebih layak. Beli pupuk tanpa ngutang.
“Harapan saya anak muda jangan gengsi dengan profesinya petani. Karena jadi petani hasilnya lebih memuaskan,” pesannya.
Kisah Alfian mendapat apresiasi Ketua DPRD Provinsi NTT Emiliana Nomleni. Saat bertemu Alfian, Emiliana menegaskan pentingnya mengubah mindset anak muda soal bertani di tengah efisiensi anggaran APBD.
“Kita bicara APBD provinsi kita belum tentu bisa mendapatkan. Karena efisiensi anggaran kita tidak bisa berbuat apa. Kita harus rubah. Dan jangan bergensi. Kita dorong terus untuk inspirasi orang-orang muda,” tegas Emiliana, Senin (22/6/2026) sore.
Ketua DPRD menilai kisah Alfian adalah contoh nyata: sarjana tidak harus menunggu kerja PNS/ASN. Bertani dengan ilmu bisa jadi jalan mandiri, produktif, dan menolong orang tua.
Kisah Alfian diharapkan jadi inspirasi, terutama di Nagekeo dan Flores yang potensi hortikulturanya besar: cabai, tomat, sayur, buah. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










