ENDE, FLORESPOS.net-Bupati Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Edistasius Endi, mengatakan Pancasila tidak hanya sebagai pemersatu bangsa, tetapi juga sebagai fondasi perdamaian dunia.
Ia mengatakan itu ketika memimpin apel peringatan hari lahir Pancasila Tahun 2026, bertempat halaman SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Senin (1/6/2026). Hari lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni.
Rilis media No: 027/Prokopim Mabar/VI/2026 yang diterima media ini via WA pada kesempatan berbeda, Bupati Endi pada apel tersebut membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (KBPIP).
Disampaikan, apel peringatan hari lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk memastikan nilai-nilai luhur tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia. Tema kegiatan: Pancasila adalah Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.
Hadir dalam upacara tersebut unsur Forkopimda Mabar, Anggota DPRD, Pimpinan Instansi Vertikal, BUMN/BUMD, TNI/Polri, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pemuda, Organisasi Wanita, serta siswa/i setempat turut memeriahkan peringatan hari bersejarah ini.
Seperti disampaikan Bupati Endi, KBPIP menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk memastikan nilai-nilai luhur tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia.
“Pancasila adalah ‘bintang penuntun’ yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan, ungkapnya.
KBPIP juga menekankan peran Indonesia dalam kancah internasional. Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Kontribusi nyata Indonesia melalui pasukan perdamaian di bawah bendera PBB, peran dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah merupakan pengejawantahan dari Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Kepala BPIP mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology).
“Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah,” tegasnya.
Kepada para menteri dan kepala daerah diamanatkan untuk memastikan setiap kebijakan publik berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan.
Seluruh pihak juga diminta untuk terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan.
Tak hanya itu, KBPIP mengajak meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya.
Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di republik tercinta. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Anton Harus










