Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial - FloresPos Net

Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

KOTA Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kini memasuki hitungan mundur menuju momen paling sakral dalam kalender liturgi umat Katolik: Pekan Suci atau Semana Santa.

Ribuan peziarah mulai berdatangan ke kota ini yang dikenal karena sejarahnya sebagai kota dengan Kerajaan Katolik tertua di Indonesia.

Warga terutama Suku-Suku Semana mulai dengan kesibukannya menyiapkan prosesi Tuan Ma serta Tuan Ana. Titik-titik tertentu dalam kota mulai ditata.

Bagi orang awam, ini mungkin tampak sebagai perayaan keagamaan biasa. Namun, jika kita menelusurinya melalui kacamata sosiologi agama, peristiwa ini menyimpan dinamika sosial yang jauh lebih dalam dan kompleks.

Dalam perspektif sosiologi agama, ritual keagamaan tidak pernah berdiri sendiri sebagai aktivitas vertikal antara manusia dan Tuhan semata. Emile Durkheim, bapak sosiologi, menekankan bahwa ritual berfungsi sebagai ‘perekat sosial’ yang menghasilkan “kesadaran kolektif”.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Sosial Dalam Terang Evangelii Nutiandi

Di Larantuka, Semana Santa adalah manifestasi nyata dari teori tersebut. Ketika ribuan umat berkumpul dalam keheningan malam atau ramainya prosesi arak-arakan, batas-batas individualisme seolah melebur ke dalam kesadaran kelompok. Interaksi intensif antara ribuan umat biasa melahirkan getaran emosi yang sama, mengubah kerumunan ‘orang asing’ menjadi satu tubuh yang hidup.

Inilah yang dalam terminologi sosiologi disebut sebagai ‘collective effervescence’ atau euforia kolektif. Suasana sakral yang tercipta melampaui aktivitas doa pribadi, dan menjadi pengalaman bersama yang menggetarkan hati setiap peziarah, menyatukan mereka dalam satu napas spiritual yang sama di bawah naungan Tuan Ma dan Tuan Ana.

Energi emosional yang dibangun bersama inilah yang memperkuat ‘solidaritas mekanik’ di antara warga. Dalam masyarakat yang dipersatukan oleh kepercayaan dan ritual yang sama, ikatan sosial terbentuk secara alami tanpa paksaan eksternal. Rasa senasib sepenanggungan dalam seluruh rangkaian ritual menciptakan rasa memiliki yang mendalam terhadap komunitasnya.

Baca Juga :  Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)

Akibatnya, kohesi sosial menjadi lebih tahan banting menghadapi perubahan zaman. Ritual ini berfungsi sebagai ‘lem sosial’ yang merekatkan kembali retakan-retakan hubungan antarwarga yang mungkin terjadi akibat dinamika kehidupan sehari-hari, memastikan keberlangsungan harmoni di Kota Reinha.

Menurut saya, menghadapi momen sakral ini, warga Kota Larantuka memiliki tanggung jawab sosiologis yang melampaui kewajiban ritual semata. Pertama, warga mesti menjadi garda terdepan dalam merawat modal sosial (social capital). Kepercayaan dan jaringan kerjasama yang terbangun selama persiapan Semana Santa adalah aset berharga.

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Atasi Sampah, DLHP Sasar Anak-Anak dan Ibu Rumah Tangga Labuan Bajo

Selasa, 29 Sep 2026 - 19:46 WITA