JAKARTA, FLORESPOS.net-Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengutuk keras dan mengecam tindakan kekerasan penganiayaan berat yang dialami Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Kejahatan yang dialami Andrie bukanlah yang pertama kali, sejak ia bersama KontraS lantang menolak RUU Revisi UU TNI kerap mengalami teror dari orang yang tidak dikenal.
Setahun berlalu, Andrie Yunus disiram air keras pada hari Jumat (13/3/2026) dini hari di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
“Dalam keterangan yang kami peroleh penyerangan itu dilakukan ketika ia hendak kembali ke rumah setelah menyelesaikan rekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia, “ kata Sekertaris Jenderal KPA Dewi Kartika,Jumat (13/3/2026).
Dalam rilisnya, Dewi mengatakan, serangan ini dilakukan oleh 2 orang tidak dikenal, yang mengendarai motor dari arah yang berlawanan dengan Andrie, akibatnya tubuh Andrie mengalami luka bakar yang parah dan tengah dalam perawatan intensif.
Bagi KPA, serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, serangan ini merupakan bentuk teror politik yang secara nyata mengancam keselamatan para pembela hak asasi manusia serta mempersempit ruang demokrasi di Indonesia.
Ia menegaskan, kebiadaban orang-orang yang tidak suka dengan sikap kritis tersebut mencerminkan praktik kekerasan yang bertujuan membungkam suara kritis masyarakat sipil yang selama ini konsisten menghendaki perbaikan bagi Bangsa Indonesia.
“Kami mengenal Andrie sebagai aktivis yang gigih, kritis dan berani menyampaikan kebenaran dan melawan kebijakan negara yang menyengsarakan rakyat,” ungkapnya.
Dewi mencontohkan, dalam beberapa waktu terakhir, Andrie bersama Koalisi Masyarakat Sipil gencar mengkritik pembahasan revisi UU TNI yang tidak transparan.
Selain itu ia juga selama 5 bulan terakhir menjadi salah satu anggota Komisi Pencari Fakta (KPF), yang melakukan investigasi independen terhadap rangkaian demonstrasi dan kerusuhan Agustus 2025.
KPA melihat serangan ini bukanlah untuk membungkam Andrie saja, tetapi untuk membungkam seluruh aktivis dan setiap orang yang memperjuangkan hak-haknya yang dirampas oleh rezim yang anti-rakyat.
“Pembungkaman yang dialami para aktivis hari ini memiliki akar yang sama dengan kekerasan yang selama ini dialami petani, nelayan, masyarakat adat, dan berbagai komunitas rakyat yang memperjuangkan hak atas tanah, wilayah hidup, dan sumber penghidupan mereka,” sesalnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando









