BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

- Jurnalis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 08:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

YOSEF Levi, sineas berbakat asal Maumere, Kabupaten Sikka, berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah perfilman nasional sebagai pemenang Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Melalui karya-karyanya yang autentik, ia mampu mengangkat narasi lokal ke layar lebar. Prestasi Levi membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan merupakan penghalang untuk meraih pengakuan tertinggi dalam industri kreatif tanah air.

Keberhasilannya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sikka dan Nusa Tenggara Timur. Peristiwa ini juga menjadi simbol kebangkitan talenta daerah yang mampu mewarnai keberagaman sinema Indonesia.

Namun, di balik gegap gempita perayaan kemenangan tersebut, muncul sebuah kesadaran penting mengenai bagaimana daerah memperlakukan aset intelektualnya. Langkah Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sikka yang menginisiasi ‘audiensi’ dengan sang sineas menjadi sinyal positif bagi tata kelola warisan budaya lokal.

Sering kali, karya-karya besar anak bangsa hilang ditelan zaman karena ketiadaan ‘sistem dokumentasi’ yang mumpuni. Tanpa pengarsipan yang sistematis, sebuah prestasi berisiko hanya menjadi ingatan kolektif yang perlahan memudar.

Baca Juga :  Yang Layak dan Yang Dekat

Upaya Disarpus Sikka dalam menekankan pentingnya mengarsipkan karya-karya kreatif ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai memandang karya seni sebagai dokumen negara yang berharga. Arsip film, naskah, maupun proses kreatif di balik layar adalah bagian dari sejarah perkembangan peradaban sebuah daerah.

Penyelamatan karya melalui ‘jalur formal kearsipan’ sejatinya memberikan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual sekaligus menyediakan referensi bagi generasi mendatang. Ketika karya Yosef Levi dan para kreator lainnya tersimpan dengan baik di lembaga kearsipan, masyarakat dapat mengaksesnya sebagai sarana pembelajaran.

Hal ini menciptakan ‘ekosistem literasi’ yang sehat. Pencapaian masa lalu menjadi fondasi bagi inspirasi masa depan. Generasi muda Sikka dan generasi pada umumnya membutuhkan ‘bukti autentik’ bahwa jejak sukses telah ditorehkan oleh pendahulu mereka agar semangat berkarya terus menyala.

Langkah ini juga menuntut perubahan paradigma masyarakat terhadap fungsi lembaga kearsipan. Gedung arsip kerap dianggap sebagai tempat penyimpanan tumpukan kertas kusam dan dokumen administratif yang membosankan. Inisiatif terhadap karya kreatif ini mendobrak stigma tersebut.

Baca Juga :  MBG dan Harapan Sosial

Semestinya, lembaga kearsipan menjadi penjaga memori publik yang dinamis. Dengan mengarsipkan karya seni, Disarpus Sikka berperan sebagai kurator sejarah yang memastikan identitas budaya masyarakat tetap terjaga dan diakui secara formal.

Komitmen pemerintah daerah ini perlu didukung dengan regulasi dan fasilitas yang memadai. Audiensi yang dilakukan harus berlanjut menjadi kerja sama teknis dalam pengumpulan dan perawatan materi digital maupun fisik.

Keberhasilan Yosef Levi seharusnya menjadi momentum bagi Kabupaten Sikka untuk mulai membangun ‘pusat data kreatif yang terintegrasi’. Hal ini memastikan bahwa setiap tetes keringat anak bangsa dalam menghasilkan karya tidak berakhir sia-sia, melainkan abadi dalam lembaran sejarah yang terawat.

Pada akhirnya, menghargai seorang pemenang piala Citra berarti menjaga karyanya agar tetap hidup selamanya. Pengarsipan adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap proses kreatif.

Melalui kesadaran kearsipan yang kuat, Sikka sedang mempersiapkan diri sebagai daerah yang tidak gagap dalam mengelola kemajuan dan tetap teguh memegang jejak-jejak keberhasilan putra daerahnya.*

Berita Terkait

BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif
BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda
‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia
BENTARA NET: Euforia Petasan
BENTARA NET: Menambal Jalan, Menambal Harapan (catatan tentang Aksi Swadaya Tendaleo)
Menata Ekonomi Lokal
Bencana Sumatera dan Solidaritas Religius (Perspektif Sosiologi Agama)
Estetika Identitas dan Kebersamaan (segelas nesface untuk Festival Musik Etnik Lamaholot)
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 08:35 WITA

BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

Sabtu, 24 Januari 2026 - 09:38 WITA

BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif

Sabtu, 17 Januari 2026 - 08:37 WITA

BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda

Sabtu, 10 Januari 2026 - 08:21 WITA

‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia

Sabtu, 27 Desember 2025 - 10:51 WITA

BENTARA NET: Euforia Petasan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Dorong Investor Investasi di Sektor Primer Manggarai Barat

Sabtu, 31 Jan 2026 - 12:18 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

Sabtu, 31 Jan 2026 - 08:35 WITA