Oleh: Florentina Ina Wai
SETIAP menjelang Hari Ibu, ruang publik kita dipenuhi dengan glorifikasi atas pengorbanan perempuan. Ibu dipuja sebagai sosok yang tak kenal lelah, yang rela melenyapkan egonya demi keluarga.
Namun, di balik sanjungan itu, sebuah fenomena sosiologis yang sunyi namun semakin masif sedang terjadi: banyak perempuan Indonesia memilih pasangan hidup dari luar batas budayanya, khususnya dari budaya Barat.
Fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai urusan “selera” atau pencarian status sosial. Ia adalah sebuah protes eksistensial terhadap struktur patriarki dan sistem patrilineal yang masih mencengkeram ruang domestik kita.
Dalam sistem patrilineal, perempuan sering kali hanya dipandang sebagai “instrumen”: rahim bagi penerus marga laki-laki dan tenaga kerja tak dibayar untuk urusan rumah tangga. Sosiolog menyebutnya unpaid care work.
Fakta menunjukkan bahwa beban kerja domestik perempuan di Indonesia jauh melampaui laki-laki, sebuah ketimpangan yang dilegitimasi atas nama “kodrat” dan “ketaatan”.
Bagi banyak perempuan, rumah tidak lagi terasa sebagai ruang aman, melainkan institusi yang menuntut penghancuran diri. Inilah yang memicu “eksodus emosional”.
Menikah dengan pasangan asing dipandang sebagai jalan keluar untuk memperoleh kedaulatan diri. Budaya Barat, dalam pandangan mereka, menawarkan model relasi yang lebih egaliter: peran domestik dibagi secara adil, dan identitas perempuan tidak melebur sepenuhnya ke dalam keluarga besar suami.
Jika fenomena ini dibedah melalui karya Erich Fromm The Art of Loving, akar persoalannya menjadi jelas. Fromm menegaskan bahwa cinta sejati menuntut empat elemen: Care, Responsibility, Respect, dan Knowledge.
Struktur patriarki kita sering gagal menghadirkan Respect. Dalam definisi Fromm, menghormati berarti melihat seseorang sebagaimana adanya dan mendukungnya tumbuh sesuai keinginannya sendiri.
Namun, dalam hegemoni patrilineal, ibu sering kali tidak dilihat sebagai individu dengan mimpi dan trauma pribadi; ia hanya dipandang melalui fungsinya. Ketika seorang perempuan memilih pasangan asing, ia sebenarnya sedang mengejar elemen Respect yang hilang itu—ia ingin dicintai sebagai subjek, bukan sebagai objek fungsional.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










