Merawat Kehidupan, Merawat Ekonomi - FloresPos Net

Merawat Kehidupan, Merawat Ekonomi

- Jurnalis

Minggu, 21 Desember 2025 - 12:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

PADA 20 Desember 2025, Bupati Flores Timur resmi menutup Pameran HUT ke-67 NTT dengan dorongan kuat untuk membangun ekosistem UMKM lokal. Momentum ini berdekatan dengan Hari Ibu (22 Desember).

Karena itu, bagi saya momen ini menghadirkan pula refleksi yang kontekstual. Intinya adalah bagaimana peran ibu, baik sebagai pribadi maupun simbol, menjadi inti dari ekosistem ekonomi rakyat.

Terkadang sejumlah orang memandang Hari Ibu di Indonesia sebagai ‘perayaan sentimental’. Hari Ibu di Indonesia kerap dianggap sebagai perayaan sentimental karena praktik peringatannya sering terbatas pada ungkapan kasih sayang personal seperti memberi bunga, hadiah, atau ucapan manis dan kurang menyinggung akar historisnya sebagai tonggak perjuangan perempuan Indonesia.

Hari Ibu sebenarnya dimaksudkan untuk menghormati perempuan sebagai “Ibu Bangsa”, dan tidak terbatas pada ibu dalam keluarga. Namun, narasi publik sering lebih menekankan aspek sentimental ketimbang peran perempuan dalam pembangunan dan perjuangan hak-hak sosial.

Dalam kaitan dengan momen di Flores Timur tersebut, bagi saya, momen peringatan itu dapat menyasar pada satu titik ini: pengingat akan peran perempuan khususnya ibu sebagai penjaga kehidupan, penggerak ekonomi keluarga, dan penopang solidaritas sosial. UMKM lokal, yang sebagian besar digerakkan oleh tangan-tangan ibu, adalah wajah nyata dari ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk bertahan.

Baca Juga :  Merdeka di Tanah Bergetar

Karena itu, tindak lanjut pasca pameran tidak boleh hanya berhenti pada seremonial, tetapi harus menjawab kebutuhan riil para pelaku UMKM, terutama kaum ibu. Kebutuhan itu terutama nian berkaitan dengan akses modal, pendampingan manajemen, dan pasar yang berkelanjutan.

Dalam perspektif filsafat Emmanuel Levinas, wajah ibu adalah panggilan etis yang menuntut tanggung jawab. Merawat UMKM berarti merawat wajah-wajah ibu yang setiap hari berjuang demi anak-anak dan komunitasnya. Sementara Aristoteles mengingatkan bahwa setiap tindakan harus diarahkan pada telos yakni tujuan kebaikan bersama.

Pameran UMKM, bila dikaitkan dengan Hari Ibu, menemukan makna terdalamnya: membangun ekonomi yang berkeadilan, yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menumbuhkan kehidupan.

Pada titik ini, Hari Ibu menghadirkan cahaya baru atas pameran UMKM. Ia merupakan ‘panggung kasih’ yang setiap hari dijalani ibu-ibu di dapur, di pasar, di ladang, dan di ruang-ruang kecil tempat mereka menenun harapan.

Baca Juga :  Kaki Diabetik, Gejala dan Cara Mencegahnya

Di titik ini, ekonomi lokal tampak sebagai anyaman pengorbanan, di mana setiap produk adalah doa, setiap karya adalah tanda cinta, dan setiap usaha adalah jalan menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Namun, perayaan tidak boleh berhenti pada aksi ‘tepuk tangan dan sorak sorai’. Pasca pameran, tugas kita adalah menjadikan ekosistem UMKM sebagai rumah pemberdayaan yang nyata.

Di sana, tangan-tangan ibu yang merawat keluarga harus diakui pula sebagai tangan yang merawat ekonomi bangsa. Sebab, mereka adalah pilar yang menopang keberlanjutan sosial, budaya, dan ekonomi.

Hari Ibu, dalam nuansa ini, menjadi panggilan etis. Di dalamnya, kita melihat ibu sebagai ‘subjek sejarah’ yang membangun bangsa melalui kerja sunyi.

Karena itu, setiap kebijakan, setiap dukungan, dan setiap langkah pasca pameran harus berakar pada penghormatan terhadap pengorbanan mereka. Dengan begitu, ekonomi lokal akan tumbuh sebagai ‘puisi kehidupan’ yang ditulis oleh tangan-tangan ibu.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA