ENDE, FLOTESPOS.net-Kenaikan harga tiket di laga semi final Piala Gubernur Liga IV ETMC XXXIV Ende mendapat sorotan publik. Pasalnya di laga semi final turnamen ini panitia menaikan harga tiket secara drastis bahkan dua kali lipat dari harga sebelumnya.
Harga tiket tribun ekonomi sebelumnya Rp 20.000 naik ke Rp 50.000 dan tribun utama dari Rp 50.000 naik ke Rp 100.000.
Kenaikan harga tiket semi-final ETMC XXXIV Ende juga tak luput dari perhatian wakil rakyat.
Ansel Kaise, anggota DPRD Ende dari PSI kepada Florespos.net,vSelasa (2/12/2025) malam mengatakan kebijakan tersebut dikeluhkan oleh warga dan pencinta sepak bola khususnya di Ende, Nagekeo dan Ngada.
Ia meminta Asprov PSSI NTT dan panitia mempertimbangkan kembali dan membatalkan kebijakan ini. Kata Ansel olah raga sepak bola sekelas ETMC adalah hiburan untuk masyarakat bukan event untuk mencari keuntungan.
“Banyak keluhan warga pencinta bola yang kita terima terkait kenaikan harga tiket di tengah gelaran turnamen ini. Ini harus menjadi perhatian panitia dan Asprov”.
“Kita ingin ada pendapatan tetapi juga harus mendengar keluhan masyarakat. Bola kaki adalah olahraga rakyat, rakyat harus senang dan gembira menonton,” kata Ansel.
Ansel juga mempertanyakan apa dasar panitia menaikan harga tiket di tengah guliran turnamen? Ia meminta harus dievaluasi dan dibatalkan karena kenaikan harga tiket semi-final tidak di bahas saat Manejer Coordination Meeting (MCM).
“Sebagai wakil rakyat kami sesalkan kebijakan ini, apalagi citra sebagai tuan rumah. Kita juga pantau di media sosial terkait keluhan ini. Riak ini harus dihentikan dengan cara memberlakukan harga tiket seperti semula”.
Masih Tunggu dari Asprov
Pieter Mithe, Ketua Panitia Pelaksana Piala Gubernur Liga IV ETMC XXXIV Ende kepada wartawan usai MCM dengan empat tim semi finalis di hotel Syfa, Selasa (2/12/2025) malam mengatakan kenaikan tiket secara estimasi sudah direncanakan sejak penyisihan grup.
Pieter mengatakan, panitia mengambil kebijakan menaikan harga tiket dengan pertimbangan agar penonton tidak membludak seperti ETMC 2017 di stadion yang sama yang berujung pada insiden yang tidak diinginkan.
“Kita belajar dari pengalaman itu maka tidak ada cara lain untuk membatasi. Harus dengan tiket yang standar seperti ini. Selain ini harga tiket dengan standar seperti ini agar kompetisi punya nilai”.
Pieter membantah sorotan publik bahwa panitia menjadikan ETMC sebagai ladang bisnis. Ia mengatakan kebijakan ini untuk meminimalisir kejadian yang tak diinginkan dan menjaga marwah turnamen.
Saat ditanya apakah kebijakan ini sudah final, kata Pieter, panitia masih menunggu keputusan Asprov PSSI NTT karena masih disoroti publik.
“Kita lihat perkembangan besok karena masih tunggu dari Asprov,” katanya.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










