Oleh: Ansel Atasoge
SEJATINYA, festival tidak hanya bernuansa hiburan. Ia adalah ungkapan identitas kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan. Festival Nagekeo One Be 2025 menjadi salah satunya. Ia menjadi bukti bahwa ruang budaya mampu menggerakkan ekonomi dan memperkuat identitas masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Nagekeo menyelenggarakan acara ini di Lapangan Berdikari, Danga. Tujuannya jelas. Masyarakat diajak bangkit melalui kreativitas dan kebersamaan.
Dalam perspektif sosiologis, festival adalah arena interaksi. Warga dari berbagai latar belakang bertemu. Mereka berbagi cerita, produk, dan harapan. Pelaku UMKM hadir. Seniman lokal tampil. Anak muda menunjukkan bakatnya. Semua terlibat dalam satu ekosistem sosial yang ‘saling menghidupi’.
Biasanya, ekonomi kreatif tumbuh dari relasi sosial. Produk kerajinan, kuliner, dan pertunjukan seni tidak lahir dari ruang kosong. Mereka lahir dari nilai, tradisi, dan pengalaman kolektif.
Festival ini memberi panggung bagi nilai-nilai itu. Ia menjadi ‘ruang afirmasi’ bahwa masyarakat Nagekeo punya daya cipta. Mereka tidak hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka adalah pelaku utama.
Festival One Be menjadi pintu masuk untuk memahami Nagekeo secara utuh. Di medan festival, para pengunjung menyaksikan dan mengalami ‘perjumpaan budaya’.
Di sana pula, mereka menyaksikan kehidupan. Mereka ‘bergelut’ pula dan belajar tentang solidaritas lokal. Mereka merasakan semangat komunitas di Nagekeo.
Dalam konteks ‘tantangan ekonomi’ yang hadirnya bisa kapan saja, festival ini menjadi simbol harapan. Ia menunjukkan bahwa ‘kebangkitan sosial’ tidak selalu datang dari pusat. Ia bisa tumbuh dari desa. Dari komunitas. Dari lapangan terbuka seperti di Danga.
Pemerintah daerah telah membuka ruang yang memungkinkan kreativitas dan kebudayaan lokal tumbuh dengan semarak. Sambutan masyarakat pun luar biasa. Antusiasme mereka menjelma dalam partisipasi aktif, semangat gotong royong, dan kebanggaan akan identitas budaya.
Tentu mereka sepakat jika dikatakan bahwa momentum ini tidak berhenti pada ‘euforia sesaat’. Namun, ia adalah benih perubahan sosial yang perlu dirawat dengan visi jangka panjang.
Langkah berikutnya adalah menjaga kesinambungan. Festival tidak cukup hanya dirayakan. Jika boleh ia perlu ‘diinstitusikan’ sebagai agenda tahunan yang dinanti dan dipersiapkan bersama.
Jika boleh ia pun ‘diubah menjadi bagian dari kurikulum sosial’, ruang belajar lintas generasi tempat nilai, sejarah, dan harapan diwariskan. Di sanalah tradisi bertemu inovasi, dan komunitas tumbuh dalam semangat kebersamaan yang berkelanjutan.
Festival Nagekeo One Be adalah proses yang hidup. Sebuah gerakan sosial yang tumbuh dari akar budaya, menyatukan generasi, dan menghidupkan semangat kolektif.
Di tengah tarian, musik, dan cerita rakyat, kita menyaksikan bagaimana kebersamaan menjadi kekuatan. Di sana warisan dirayakan dan masa depan dibangun secara inklusif dan berdaya.
Nagekeo telah memulainya dengan langkah penuh keyakinan dari hati yang bersatu dan tradisi yang dirawat. Seperti kata Margaret Mead, “Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world; indeed, it’s the only thing that ever has.”
“Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang penuh perhatian dan komitmen dapat mengubah dunia; kenyataannya, hanya merekalah yang pernah berhasil melakukannya.”
Festival ini boleh menjadi ‘titik star’ untuk memulai perubahan besar dari panggung kecil yang dipenuhi cinta dan cita. *










