Seribu Cahaya dari Nian Tana Sikka - FloresPos Net

Seribu Cahaya dari Nian Tana Sikka

- Jurnalis

Sabtu, 6 September 2025 - 09:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

GELORA Samador Maumere tidak sekadar menjadi ruang pertemuan ribuan warga Kabupaten Sikka. Mereka biarawan, biarawati, aparat TNI-Polri, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat lintas usia.

Kala itu, Samador menjelma menjadi altar harapan, tempat di mana spiritualitas lokal bertemu dengan aspirasi nasional.

Momen “Seribu Cahaya” itu bukan hanya simbol, tetapi seruan moral untuk keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia yang masih bergulat dengan ketimpangan sosial, konflik identitas, dan krisis ekologis, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kekuatan komunitas bukan terletak pada jumlah, melainkan pada kesatuan nilai.

Nian Tana Sikka, sebagai tanah warisan budaya dan spiritual, menyuarakan bahwa transformasi bangsa harus berakar pada kearifan lokal yang membebaskan.

Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel, pernah menegaskan bahwa “ketimpangan bukanlah konsekuensi tak terhindarkan dari pertumbuhan, melainkan hasil dari pilihan kebijakan.”

Cahaya dari Sikka adalah pilihan moral untuk menolak ketidakadilan yang dilembagakan dan membangun tata kelola yang berpihak pada martabat manusia.

Pernyataan Joseph Stiglitz itu menggugah kesadaran kita bahwa ketimpangan bukan takdir ekonomi, melainkan cerminan dari arah moral sebuah bangsa.

Dalam terang itu, Cahaya dari Sikka tampil sebagai pilihan yang berani dan bermartabat bukan sekadar ekspresi lokal, tetapi seruan etis dari pinggiran untuk menolak ketidakadilan yang dilembagakan.

Ia mengingatkan bahwa tata kelola yang adil tidak lahir dari retorika pusat, melainkan dari keberanian komunitas untuk menyalakan lentera harapan, menyuarakan martabat, dan menata ulang relasi kuasa demi kehidupan yang lebih manusiawi.

Dari tanah Nian Tana, suara spiritualitas dan solidaritas itu bergema, menantang kita semua untuk memilih: apakah kita akan terus membiarkan kebijakan mengabaikan yang lemah, ataukah kita akan membangun Indonesia dari suara-suara yang selama ini dipinggirkan.

Baca Juga :  Cermin Retak dari Luka Lucky

Sementara itu, Amartya Sen mengingatkan bahwa “pembangunan adalah perluasan kebebasan manusia.”

Dalam konteks ini, doa lintas iman dan solidaritas lintas sektor di Maumere adalah ekspresi kebebasan kolektif yang menolak reduksi manusia menjadi angka statistik. Ia adalah pembangunan yang berjiwa.

Amartya Sen mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kebebasan manusia untuk hidup bermartabat.

Dalam terang pemikiran itu, doa lintas iman, dan solidaritas lintas sektor yang bergema dari Maumere bukanlah aktivitas seremonial belaka, melainkan ekspresi kebebasan kolektif yang menolak reduksi manusia menjadi angka statistik atau objek kebijakan. Ia adalah pembangunan yang berjiwa yang menyentuh akar spiritualitas, merawat identitas, dan menyalakan harapan dari komunitas.

Di sana, pembangunan bukan dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi dari ruang-ruang hidup yang penuh makna, tempat manusia dipulihkan sebagai subjek sejarah dan spiritualitas menjadi energi transformatif untuk menata ulang arah bangsa.

Dan seperti dikatakan oleh Desmond Tutu, tokoh perdamaian Afrika Selatan, “Jika kamu netral dalam situasi ketidakadilan, kamu telah memilih pihak penindas.” Karena itu, kehadiran ribuan warga di Gelora Samador bukanlah netralitas, melainkan keberpihakan aktif pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Kehadiran ribuan warga di Gelora Samador bukanlah sekadar partisipasi, melainkan pernyataan moral yang lantang. Mereka tidak hadir untuk menyaksikan, tetapi untuk menyuarakan; tidak berdiri di tengah, tetapi berpihak secara aktif pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal: keadilan, martabat, dan solidaritas.

Dalam wajah-wajah yang berkumpul dalam doa, kita melihat keberanian untuk menolak diam, untuk menyalakan cahaya dari pinggiran, dan untuk membangun Indonesia yang tidak hanya besar secara geografis, tetapi juga luhur secara nurani.

Baca Juga :  Pater Niko “Konok” Strawn SVD Persembahkan Diri Hingga Titik Batas (Catatan di Usia 91 Tahun)

Gelora Samador menjadi ruang spiritual-politik, tempat di mana harapan kolektif dijahit dengan benang keberpihakan dan komitmen pada kehidupan yang lebih adil.

Seribu Cahaya dari Sikka bukan sekadar seremoni, melainkan gema narasi alternatif Indonesia yang lahir dari pinggiran, dari tanah yang disebut “Nian Tana”, tempat di mana akar spiritualitas dan kebijaksanaan lokal menyatu dalam denyut harapan.

Dari sana, suara yang jernih dan menggugah menyeruak ke pusat, menantang diamnya nurani bangsa dan negara.

Ia bukan hanya perayaan, tetapi panggilan untuk membuka ruang advokasi spiritualitas sebagai energi perubahan yang transenden, menjadikan komunitas bukan objek pembangunan, melainkan subjek sejarah yang berdaya, bermartabat, dan mampu menyalakan lentera keadilan dari batas-batas negeri.

Jika Indonesia sungguh ingin menjadi bangsa yang adil dan bermartabat, maka ia harus membuka telinga dan hati bagi ribuan suara yang tak henti menggemakan keadilan dari lorong-lorong sunyi, dari kampung-kampung yang jauh dari sorotan, dari komunitas yang tetap setia menjaga harapan meski sering terpinggirkan.

Di sana, cahaya bukan sekadar sinar yang menerangi, melainkan api yang membakar semangat untuk membangun negeri yang berpihak pada yang lemah, pada yang terabaikan, dan pada mereka yang memilih untuk tetap bermimpi di tengah kenyataan yang keras.

Sebab keadilan bukan hanya soal hukum dan kebijakan, tetapi tentang keberanian untuk melihat wajah manusia di balik statistik, dan tentang komitmen untuk menjadikan harapan sebagai fondasi politik dan spiritualitas bangsa. *

Berita Terkait

BENTARA NET: Membaca Kisah Candi Audia
BENTARA NET: Harapan di Meja Wapres Gibran
BENTARA NET: Rak Kosong dan Martabat ODGJ
BENTARA NET: Harmoni Alam, Seni dan Budaya
BENTARA NET: Idul Adha dan Harmoni Kehidupan
BENTARA NET: Menjemput Mimpi di Negeri Tirai Bambu
BENTARA NET: Dari Wae Sambi, Pelajaran Kecil yang Besar Artinya
BENTARA NET: Kisah Vinsen dari Puncak Keliwatuwea
Berita ini 166 kali dibaca
Redaksi: "BENTARA NET" Hadir Setiap Sabtu dalam Sepekan.

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 07:43 WITA

BENTARA NET: Membaca Kisah Candi Audia

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:50 WITA

BENTARA NET: Harapan di Meja Wapres Gibran

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:29 WITA

BENTARA NET: Rak Kosong dan Martabat ODGJ

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:33 WITA

BENTARA NET: Harmoni Alam, Seni dan Budaya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:27 WITA

BENTARA NET: Idul Adha dan Harmoni Kehidupan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wabup Weng Optimis PAD Manggarai Barat Capai Target

Jumat, 10 Jul 2026 - 19:16 WITA

Nusa Bunga

Pulau Ende Amankan 3 Poin, Target Bawa Pulang Piala

Jumat, 10 Jul 2026 - 09:54 WITA