“Kalau teknologi kita bagus, tetapi kualitas pelayanan kita tidak cukup bagus, jangan berharap orang mau datang kembali ke Labuan Bajo. Data juga menunjukkan bahwa indikasi wisatawan untuk datang kembali ke Labuan Bajo cukup besar, dan salah satu variabel penentunya adalah pelayanan, yaitu kualitas pelayanan,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy Marpaung, menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi pemandu wisata snorkeling tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana pemandu mampu menghadirkan pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkualitas.
Menurut Andhy, SDM tersertifikasi merupakan salah satu faktor yang dapat menjamin kepercayaan dan rasa aman wisatawan saat melakukan aktivitas wisata berisiko tinggi di kawasan perairan, salah satunya adalah aktivitas snorkeling.
“Pemandu wisata merupakan bagian penting dari pengalaman wisatawan. Karena itu, kompetensi tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik, memahami kondisi wisatawan, mengenali potensi risiko, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat, dan ini hal dapat didukung oleh tenaga berkompetensi yang tersertifikasi,” ujar Andhy.
Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata Labuan Bajo yang berkualitas dan berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini John E. Sidjabat, Founder & Managing Director Global Dive Center Indonesia dan Marselinus Betong, Ketua Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM).
Kegiatan ini turut dihadiri Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri, Faisal secara daring melalui Zoom dan Ketua Tim Kerja Pelatihan Berbasis Kompetensi Kementerian Pariwisata, Andi Marlina.
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










