Akhirnya di Watubala itu menjadi tempat pijak dan pusat kegiatan SOKAR. Panggilan dan perutusan Allah melalui CIJ dimulai di tempat itu. Umat dan masyarakat sekitarnya, terutama Penyandang Masalah Sosial diberdayakan dengan berbagai kegiatan pendampingan (bimbingan dan pelatihan).
Di Watubala, sebuah rungan untuk kursus/pelatihan seperti kursus menjahit, satu unit untuk poli klinik dan Rumah Biara CIJ yang disebut Komunitas Anjo Da Guarda dibangun.
Dari rumah komunitas ini, anggota CIJ berkarya, melakukan berbagai kegiatan sosial karitatif, pemberdayaan dan pelayanan pastoral lainnya bagi umat terutama “orang-orang kecil” (penyandang masalah sosial) yang membutuhkan pendampingan.
Kegiatan seperti menjahit, menyulam, merenda dan pelayanan kesehatan dilakukan oleh anggota CIJ di tempat ini. Semuanya itu dilakukan sebagai konkritisasi dari pemberdayaan dan misi keberpihakan CIJ terhadap orang kecil.
Sejalan dengan dinamika dan tuntutan zaman, SOKAR terus berkembang dan termodifikasi. Pada tanggal 29 Juni 1984, SOKAR Watubala diperbaharui menjadi sebuah Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM). Pusat Pengembangan Masyarakat tersebut diberi nama: PPM St. Vinsensius.
Tujuan PPM tersebut adalah memberdayakan/mendidik masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.
PPM St. Vinsensius pun dalam perjalanannya terus mengalami transformasi sejalan dengan tuntutan pemerintah. Pada tanggal 24 September 1986, PPM St. Vinsensius akhirnya diperbaharui menjadi sebuah lembaga formal dengan nama: Yayasan Bina Daya St. Vinsensius. CIJ meyakini bahwa visi dapat diraih dan misi bisa beroperasi jika keabsahan lembaga bisa dipertanggungjawabkan.
Editor : Wall Abulat










