St. Vinsensius melihat Kristus dalam diri orang miskin sebagaimana juga yang dihayati CIJ dan YASBIDA. Orang miskin dan menderita adalah wajah Kristus sendiri.
Karena itu orang kecil (orang miskin dan menderita) selalu ada pada CIJ sebagaimana pesan pendirinya dan selalu menjadi opsi/pilihan sasaran pelayanan YASBIDA. Melayani mereka dengan kasih dan keringat sama artinya melayani Tuhan.
Spiritualitas bukan sekadar doa atau renungan, melainkan belarasa aktif dan nyata untuk mengangkat martabat kaum papa-miskin yang terpinggirkan. Keutamaan seperti kerendahan hati, kesederhanaan, matiraga, ketaatan dan kelemah-lembutan sungguh dihidupi dalam seluruh karya pelayanan sebagaimana yang dihayati oleh St. Vinsensius.
Keberadaan YASBIDA bukan tanpa panduan, arah dan tujuan yang dicita-citakan ke depan. CIJ memastikan bahwa YASBIDA memiliki cita-cita dan idealisme bagi masyarakat pada umumnya dan kelompok/masyarakat dampingan khususnya.
Pertanyaan: “Mau jadi atau seperti apa YASBIDA ke depan dan seperti apa idealisme/cita-cita untuk masyarakat dampingan” terjawab dalam pernyataan, gambaran atau cita-cita dan dinyatakan secara gamblang dalam visinya.
Visi YASBIDA adalah semua anggota sasaran/dampingan YASBIDA memiliki dan menikmati hak-haknya secara integrative, baik rohani maupun jasmani.
Inilah idealisme, cita-cita yang ingin diperjuangkan CIJ melalui Lembaga Sosialnya: Yayasan Bina Daya St. Vinsensius (YASBIDA) bersama stake holders lainnya. CIJ sadar bahwa membangun jejaringan dan kerja sama multi pihak dan multi sektor untuk sebuah pemberdayaan adalah sebuah keniscayaan.
Editor : Wall Abulat










