Camat Ile Bura, Yohanes Kowa Kleden kepada Florespos.net, Selasa (21/4/2026), mengatakan hal yang sama.
Menurut dia, warga biasanya turun kerja bakti membersihkan atau setidaknya mengeruk secara manual agar bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

“Memang memprihatinkan sebagaimana rekan-rekan wartawan sendiri lihat dan alami tadi ketika ke Kantor Camat. Selain badan jalan, di kawasan itu juga banyak tanaman pertanian seperti jagung dan padi rusak akibat tergerus dan tertimbun material lahar dingin,” katanya.
Tak Ada Alat Berat di Lokasi Lintasan Banjir Lahar Dingin
Disaksikan Florespos.net di sekitar lokasi badan jalan tertimbun material lahar dingin, tidak tampak kendaraan alat berat. Informasi dihimpun, alat berat ada saat ada banjir lahar dingin. Setelah itu alat berat pun berpindah tempat atau lokasi.
“Harusnya alat berat selalu standby di lokasi, apalagi sekarang sedang tidak hujan dan banjir, mestinya bisa lakukan pengerukan agar jalan bisa dilalui dengan aman. Jalan gelombang dan sebagian sudah ambruk. Berbahaya bagi pengendara,” kata sejumlah pengendara dan warga, Selasa (21/4/2026).
Senada ditegaskan Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur Abdon Yulius. Dia mendesak pemerintah daerah agar selalu siaga alat berat dan siapkan alternatif untuk mempermudah akses bagi masyarakat.
“Alat berat harus stanby di titik-titik yang selalu menjadi langganan banjir lahar dingin terutama di Nobo-Nurabelen dan Nawokote-Tabana atau Waiula,” tegas Abdon Yulius di Larantuka, Rabu (22/4/2026).
Hal itu menjadi penting dan urgen, apalagi dalam beberapa hari belakangan ini, Gunung Lewotobi Laki-laki yang berstatus waspada terus menerus meletus dan hujan masih sering terjadi di wilayah tersebut.
Butuh Intervensi Pusat
Kondisi ruas jalan tersebut juga mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Provinsi NTT, Anna Waha Kolin.
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










