LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Kendy, perwakilan IWAPI, mengingatkan pemerintah untuk tidak mengabaikan investasi di darat Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia sampaikan itu dalam suatu diskusi di Labuan Bajo, seperti tertuang dalam Siaran Pers Pengembangan Pariwisata Labuan Bajo: Antara Pesona Bahari Dan Tantangan Industri Kreatif Lokal.
Diskusi bertajuk Sunset Talk, dari Labuan Bajo untuk Dunia, itu merupakan kolaborasi strategis antara Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo, berlangsung di kawasan Mawatu Labuan Bajo belum lama berselang.
Acara ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah masa depan pariwisata, seni lokal, dan ekonomi kreatif di destinasi super prioritas Labuan Bajo.
Hadir di antaranya Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat Fransiskus Sales Sodo, Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Andi MT Marpaung.
Dalam diskusi hangat tersebut menyoroti ketimpangan antara popularitas wisata bahari yang mendominasi dan perlunya penguatan sektor wisata darat serta keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata premium.
Menurut Kendy, wisata bahari dan darat di Mabar adalah pasangan tak bisa dipisahkan. Jika terlalu fokus di laut, saat musim barat dan laut tidak bisa diakses, itu gawat.
“Ekonomi kita akan tidur panjang. Fasilitas darat seperti Mawatu dan Parapuar harus terus digenjot,” kata Kendy.
Pemenang lomba Komodo Tawa Season 2, drg. Idam, pada kesempatan yang sama mengusulkan konsep Dental Tourism.
“Di Bali, turis bisa berobat sambil berwisata. Di Labuan Bajo, dengan biaya medis yang jauh lebih terjangkau dibanding Australia misalnya, ini bisa menjadi sumber PAD yang besar jika diregulasi dan dikerjasamakan dengan klinik serta agen perjalanan secara profesional,” ucap Idam.
Acara Sunset Talk ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan merchandise lokal sebagai simbol komitmen bersama untuk memajukan Labuan Bajo melalu kolaborasi lintas sektor yang lebih inklusif. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










