Kelola Labuan Bajo Perlu Sinkronisasi Kebijakan Intensif - FloresPos Net

Kelola Labuan Bajo Perlu Sinkronisasi Kebijakan Intensif

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 10:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Mengelola Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) memerlukan sinkronisasi kebijakan yng intensif, karena ekosistemnya kompleks.

Demikian Sekretaris Daerah (Sekda) Mabar, Fransiskus Sales Sodo, dalam suatu diskusi di Labuan Bajo, seperti tertuang dalam Siaran Pers Pengembangan Pariwisata Labuan Bajo: Antara Pesona Bahari Dan Tantangan Industri Kreatif Lokal.

Diskusi bertajuk Sunset Talk, dari Labuan Bajo untuk Dunia, itu merupakan kolaborasi strategis antara Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo, berlangsung di kawasan Mawatu Labuan Bajo belum lama berselang.

Acara ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah masa depan pariwisata, seni lokal, dan ekonomi kreatif di destinasi super prioritas Labuan Bajo.

Dalam diskusi hangat tersebut menyoroti ketimpangan antara popularitas wisata bahari yang mendominasi dan perlunya penguatan sektor wisata darat serta keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata premium.

Menurut Sekda Sodo, pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks, terutama Taman Nasional Komodo (TNK).

Saat ini, katanya, sekitar 95% kunjungan wisatawan masih terpusat di laut, dengan proporsi wisatawan asing mencapai 78%.

Baca Juga :  Rehabilitasi Terumbu Karang Teluk Maumere, Ararat Coral Gardener Lakukan Penanaman 1.200 Fragmen Karang

Pihaknya sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah ‘Gendang Mabar’ untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan, agar ada konsolidasi antara regulasi dan implementasi di lapangan, ujar Sekda Sodo.

Andi MT Marpaung, Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), menyatakan bangga atas penobatan TN Komodo tempat terindah nomor dua di dunia oleh majalah Time Out. Namun ia juga memperingatkan risiko kejenuhan wisatawan jika hanya mengandalkan alam.

“Kita harus mendorong diversifikasi produk agar tidak hanya berbasis bahari. Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda,” ungkapnya.

Lanjut dia, BPOLBF melalui program seperti ‘Wikenet Parapuar’ terus membina sanggar seni dan UMKM agar mereka memiliki panggung rutin dan bisa mandiri secara bisnis (B2B) dengan hotel atau restoran, bukan sekadar bergantung pada bantuan pemerintah, ujar Marpaung.

Rino, pelaku UMKM kreatif dan pemilik Komabi, nyatakan selama ini mereka merasa masih sebagai pelengkap di tengah pembangunan yang bombastis.
Pihaknya berusaha mengimbangi kebijakan pemerintah dengn melahirkan karya otentik seperti konten budaya dan bahasa Manggarai diproduk mereka.

Baca Juga :  Ditunda, Internasional Golo Mori Jazz 2024

“Tetapi kami juga butuh pendampingan langsung, regulasi yang mewajibkan penggunaan produk lokal di hotel-hotel, serta standarisasi harga agar UMKM lokal tidak kalah bersaing,” ungkap Rino.

Senada dengan Suci Maria, seorang influencer lokal. Ia menyoroti pentingnya storytelling dalam promosi digital. Saat ini lebih banyak orang luar yang bercerita tentang Labuan Bajo daripada orang lokal sendiri.

“Kita tak boleh lagi hanya jual keindahan, tapi harus menjual cerita dan makna. Saya harap pemerintah melibatkan kami para kreator konten sejak awal proses perencanaan, bukan hanya saat acara sudah selesai. Agar pesan yang disampaikan lebih emosional dan terhubung dengan publik,” ucap Suci Maria.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama, menambah bahwa komunitas kreatif lokal seringkali masih berjuang secara mandiri (berdikari).

“Faktanya, pihak luar atau EO internasional lebih menghargai nilai (value) karya kami dibandingkan pihak lokal,” katanya.

“Kami butuh dukungan fasilitas dan ruang ekspresi yang lebih luas agar industri kreatif ini bisa tumbuh seiring dengan label pariwisata super premium,” tambahnya. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

570 PPPK Paruh Waktu di Ngada Terima SK Perpanjangan
PSN Ngada Resmi Berangkat Menuju Liga 3 Nusantara
Warga Ende Dilarang Membeli Barang Dagangan Pedagang Kaki Lima yang Jual di Badan Jalan dan Trotoar
Technical Delegate PSSI Visitasi Stadion Marilonga Ende, Ini Catatan untuk Pembenahan
Pesan Penting Uskup Maumere Saat Tahbiskan Tujuh Imam Baru Ordo Karmel
Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital
Gebrakan Disnakertrans Sikka: Aula Kantor Camat Mego Jadi Pusat Sosialisasi dan Mini Job Fair
Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:05 WITA

570 PPPK Paruh Waktu di Ngada Terima SK Perpanjangan

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:44 WITA

PSN Ngada Resmi Berangkat Menuju Liga 3 Nusantara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 19:57 WITA

Warga Ende Dilarang Membeli Barang Dagangan Pedagang Kaki Lima yang Jual di Badan Jalan dan Trotoar

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:38 WITA

Pesan Penting Uskup Maumere Saat Tahbiskan Tujuh Imam Baru Ordo Karmel

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:46 WITA

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Berita Terbaru

Nusa Bunga

570 PPPK Paruh Waktu di Ngada Terima SK Perpanjangan

Senin, 19 Okt 2026 - 18:05 WITA

Nusa Bunga

PSN Ngada Resmi Berangkat Menuju Liga 3 Nusantara

Senin, 19 Okt 2026 - 16:44 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA