LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Walaupun cuaca ekstrim, pemerintah tidak bisa membatasi ruang cari makan nelayan karena itu soal perut, khususnya di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT.
Demikian Camat Komodo, Iwan Martinus menanggapi media ini di Labuan Bajo baru-baru ini terkait cuaca buruk. Khusus Kecamatan Komodo belakangan dihantam badai, hujan dan angin.
Kecamatan Komodo, kata dia, memiliki wilayah darat dan laut. Banyak desa pulau. Taman Naman Nasional Komodo (TNK) juga bagian dari Kecamatan Komodo.
Menurut Iwan Martinus, terkait cuaca buruk, yang bisa dibatasi pemerintah mungkin mobilisasi ke taman nasional Komodo atau ke tempat wisata lain di kecamatan itu. Tetapi aktivitas nelayan tidak bisa dibatasi, sulit dilakukan karena soal perut.
Lanjutnya, cuaca ekstrim memang peluang terjadinya kecelakaan lalu. Tetapi soal perut, para nelayan yang tahu, kata Iwan Martinus.
Lebih jauh diungkapkan, sekitr 90 % warga pesisir dan pulau di Kecamatan komodo bermata pencaharian nelayan. Sisanya 10 % berprofesi pegawai, kerja di perusahan, DPRD, dan juga petani.
Masih Iwan Martinus, belakangan ada sejumlah rumah penduduk dan gedung sekolah di Mabar alami kerusakan dihantam badai, hujan dan angin. Di antaranya di Pulau Mesa, Desa Pasir Putih dan di Desa Golo Mori. Kejadian sekitar 2 minggu lalu, Maret 2026.
Oleh Pemcat Komodo pihak-pihak terkait bencana itu difasilitasi ke dinas-dinas teknis/terkait di lingkup Pemkab Mabar dengan harapan untuk mendapatkan bantuan.
Kehidupan nelayan Mabar khususnya, rentan dengan bencana akibat badai. Mungkin baiknya mereka difasilitasi biar tidak antri BBM, mungkin bisa BBM khusus, bersubsidi, kata Iwan Martinus. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










