Kedua belas, ia melepaskan seekor Komodo yang menyasar ke permukiman warga tepatnya di Watu Pajung dalam kondisi normal pada 3 Mei 2024
Ketiga belas, ia melepaskan seekor komodo yang ditemukannya di Watu Pajung dalam kondisi normal dan dikembalikan ke habitatnya pada 30 Juli 2024.
Keempat belas, ia menemukan seekor komodo yang mengalami cacat di Watu Pajung pada 26 Desember 2024. Satwa Komodo yang ditemukan cacat ini dibawa ke rumahnya untuk kemudian dirawatnya hingga sembuh selama 2 minggu. Usai satwa langka ini sembuh, ia kemudian mengembalikan satwa itu ke habitatnya.
Kelima belas, ia menemukan dan melepaskan seekor komodo yang menyasar ke permukiman warga lalu dikembalikan ke habitat asalnya pada 21 Juni 2025.
Tak hanya menyelamatkan satwa Komodo, Arsad juga selalu melakukan pelbagai aksi penyelamatan lingkungan habitat komodo dengan menanam mangore dan membersihkan sampah di sekitar habitat komodo hidup selama bertahun-tahun.
Ia juga juga gemar melakukan pelbagai pencerahan kepada masyarakat terkait aneka hal di antaranya pengenalan satwa Biawak Komodo kepada masyarakat, pelestarian biawak komodo, sosialisasi dan edukasi yang rutin dilakukan kepada kalangan pelajar dari Tingkat SD hingga SLTA yang dilakukan pada setiap tanggal 14 dalam bulan berjalan, rutin menyampaikan informasi kepada pengunjung di Pusat Informasi Komodo, pemasangan papan imbauan.
Juga, pembuatan bak sampah, dan rutin bermitra dengan komponen sekolah melakukan pembersihan sampah di sekolah dan di lingkungan masyarakat, dan pelbagai upaya konservasi dan penanganan interaksi komodo dengan masyarakat dalam jejaring kerja sama dengan para pihak di antaranya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT, , KSP dan In Flores.
Panggilan Kemanusiaan dan Habitat Lingkungan Ramah
Arsyad ditemui di kediamannya di Pota pada Sabtu 28 Februari 2026 mengaku sangat gembira dengan aksi kemanusiaan dan peduli lingkungan yang dilakukannya dalam belasan tahun terakhir, khususnya menyelamatkan Satwa Biawak Komodo.
“Saya terpanggil untuk menyelamatkan biawak komodo sebagai wujud konkret komitmen kemanusiaan saya untuk menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup satwa komodo kapan dan di mana pun,” kata Arsyad.
Arsyad mengaku komitmennya itu tak sekadar ungkapan pemanis mulut belaka, tetapi merupakan panggilan kemanusiaan yang ditunjukkannya dalam setiap hari, baik dengan cara merawat lingkungan sekitar, menjaga keberlangsungan hidup biawak komodo, maupun gencar memberikan pencerahan ilmu kepada semua generasi masyarakat, termasuk para siswa untuk tetap menjaga biawak komodo dan habitat tinggalnya.
“Saya selalu ada waktu untuk merawat habitat komodo. Sejak 2012 hingga saat ini, saya sudah melepaskan 17 biawak komodo yang menyasar jauh dari habitatnya, dan yang masuk ke permukiman warga. Saya melepaskan satwa komodo ke tempat habitatnya,,” kata Arsyad.
Arsyad mengsharingkan bagaimana pengalaman uniknya ketika pada 26 Desember 2024 ia menemukan seekor komodo dalam kondisi cacat/dilukai.
“Saat itu, saya mengambil biawak komodo itu dan dibawa ke rumah saya. Saya merawat komodo itu selama dua minggu, Setelah komodo itu sembuh, saya kemudian melepaskannya ke habitatnya,” kata Arsyad.

Arsyad mengaku panggilan kemanusiaannya itu terkadang dinilai janggal oleh warga. “Saya terkadang dinilai gila karena selalu meluangkan waktu untuk menyelamatkan satwa yang sangat berisiko itu. Tapi, saya tidak mundur karena penilai warga.”
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










