ADONARA, FLORESPOS.net-Aktivitas jual beli telur ayam di pasar tradisional tetap menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.
Di balik tumpukan rak telur yang tersusun rapi, Ibu Siti Mirna telah menekuni usaha tersebut sejak lama. Ia mengaku, sudah menjalankan usaha ini sejak 2009. “Sudah belasan tahun dari tahun dari 2009 kira-kira,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Dalam kesehariannya, Ibu Siti Mirna berjualan secara berpindah mengikuti jadwal pasar. Setiap Senin dan Kamis ia berjualan di Pasar Waiwerang, Selasa, Jumat, dan Minggu di Pasar Witihama, sedangkan Rabu dan Sabtu di Pasar Senadan.
Pola tersebut sudah dijalaninya selama bertahun-tahun demi menjangkau pembeli di berbagai wilayah. Ia menyebutkan, dalam kondisi normal, penjualan telur bisa mencapai sekitar 10 ikat per hari. “Sekitar 10 ikat biasa perhari,” katanya.
Namun, belakangan ini penjualan mengalami penurunan. “Belakangan ini menurun, soalnya yang lain juga sekarang di desa-desa juga sudah dapat bantuan pemberian sembako begitu, jadi kita sekarang ini sepi,” ungkapnya.
Dari sisi harga, telur ayam saat ini mengalami kenaikan dibanding sebelumnya. “Sebelumnya Rp60.000, sekarang sudah Rp65.000 per rak,” jelas Ibu Siti Mirna.
Untuk pasokan, ia mendapatkan telur dari luar daerah. “Dari Surabaya impor kesini,” ujarnya.
Meski telah lama menjalani usaha tersebut, tantangan tetap ada. Selain persaingan dengan pedagang baru, ia juga harus menghadapi risiko telur yang cepat rusak.
“Tantangannya banyak saingan baru juga muncul, telur cepat busuk, orang kalau tidak beli terus lama disimpan tu cepat busuk telurnya,” katanya.

Di tengah berbagai tantangan itu, Ibu Siti Mirna berharap usahanya terus berjalan dan berkembang. “Harapan saya meningkat terus penjualannya laris manis, terus rezeki terus bertambah,” tuturnya.
Sementara itu, seorang pembeli telur, Julkarnain Putra, mengaku merasakan kenaikan harga telur dalam beberapa waktu terakhir.
“Menurut saya itu sebagai pembeli sekarang harga telur itu semakin naik jadi terasa lebih mahal dari biasanya. Mau tidak mau tetap beli karena telur itu kebutuhan sehari-hari. Mungkin karena banyak yang butuh atau stoknya berkurang jadi harganya naik,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Ia membandingkan harga sekarang dengan sebelumnya. “Kalau di bandingkan dulu, sekarang itu lebih mahal. Dulu itu papan itu sekitar lima puluhan ribu. Sekarang itu sudah enam puluhan ribu. Lumayan beda harganya jadi terasa banget naiknya,” katanya.
Julkarnain biasanya membeli telur di pasar dan memilih langsung dari pedagang. “Saya biasanya beli telur itu di pasar. Di sana banyak orang jual telur jadi bisa pilih-pilih, tapi sa biasanya beli di ibu Siti Mirna,” ujarnya.
Jenis telur yang dibeli pun menyesuaikan ketersediaan. “Biasanya saya beli telur ayam biasa. Kadang yang putih, kadang yang coklat. Tergantung yang ada di pasar dan yang kelihatan bagus tidak kelihatan busuk,” katanya.
Ke depan, ia berharap usaha penjualan telur dapat berkembang lebih baik.
“Harapan saya sih semoga ke depannya ada toko yang khusus jual telur saja jadi lebih rapi dan enak dilihat. Terus semoga juga harganya bisa lebih stabil lagi dan jangan sering naik supaya pembeli tidak terlalu berat,” tuturnya.
Di tengah dinamika harga dan persaingan pasar, usaha telur milik Ibu Siti Mirna tetap menjadi bagian dari roda perekonomian pasar tradisional.
Kesetiaannya berpindah dari satu pasar ke pasar lain setiap pekan menjadi bukti ketekunan dalam menjaga usaha agar tetap bertahan dan melayani kebutuhan masyarakat. *
Penulis : Muhammad Timur Sulaiman (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










