Minim Perhatian Pemerintah di NTT Terhadap Bencana - FloresPos Net

Minim Perhatian Pemerintah di NTT Terhadap Bencana

- Jurnalis

Jumat, 27 Februari 2026 - 09:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUPANG, FLORESPOS.net-Patut disesalkan karena perhatian pemerintah di Nusa Tenggara Timur baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terhadap aspek kebencanaan sangatlah minim padahal provinsi bercirikan kepulauan ini sangat rentan terhadap bencana alam yang tidak hanya mengakibatkan kerugian material tapi kehilangan jiwa. Karena itu dibutuhkan komitmen dan kemauan bersama untuk menyikapi persoalan dimaksud agar bisa menekan dampak yang bakal terjadi.

Demikian benang merah yang dapat dipetik dari diskusi akhir pekan yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem NTT di kantor partai itu, Kamis (26/2/2026). Kegiatan yang dibuka Sekretaris DPW NasDem NTT, Johanna E. Lisapally itu mengusung tema ‘Lima Tahun Seroja, Apa Dampak dan Solusi Konkret’.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana NTT dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Norman Riwu Kaho menguraikan, meski yang paling dirasakan hingga saat ini adalah siklon tropis seroja pada 4 April 2021, tapi sebenarnya siklon tropis sudah beberapa kali melanda wilayah NTT.

Norman menyebutkan, sedikitnya sudah lima kali NTT dilanda siklon tropis, yakni siklon tropis Marian telah menjadi siklon tropis kategori dua di laut Timor dan mencapai kategori empat saat berada di sebelah selatan Pulau Rote pada 12 April 1991.

Selanjutnya, siklon tropis Chloe pada 3- 9 April 1995, siklon tropis Magda pada 18- 24 Januari 2010, siklon tropis Narelle pada 5- 15 Januari 2013, dan siklon tropis Wallace pada 4-12 April 2019.

Baca Juga :  PPMAN Audience dengan Wamen HAM RI Bahas Konflik Agraria Nangahale

“NTT memiliki sejarah bencana cuaca ekstrem akibat siklon tropis telah membawa dampak langsung dan tidak langsung sekaligus mengindikasikan tingginya tingkat bahaya. Untuk respon Siklon, kita perlu belajar dari teladan negeri tetangga yakni Darwin, Australia yang juga memiliki tingkat bencana yang hampir sama,” papar Norman.

Ia menegaskan, mengingat NTT memiliki risiko iklim dan bencana yang tinggi, tentunya aksi pengurangan risiko bencana dan aksi ketahanan iklim (mitigasi dan adaptasi) menjadi sebuah keharusan, bukan opsional, serta terintegrasi dengan pencapaian SDGs.

Norman berargumen, pemerintah harus mengambil langkah dimaksud karena perubahan iklim dan kebencanaan adalah suatu keniscayaan dan tidak dapat dihindari.

Sementara di satu sisi, perhatian pemerintah terhadap kebencanaan belum maksimal. Bahkan bila dirata- ratakan, indeks kapasitas daerah berada pada tingkat sedang, dan sebelas kabupaten berada pada tingkat rendah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTT, Syafrudin Herman menjelaskan, dalam kurun waktu empat tahun terhitung sejak 2021- 2025, Wilayah NTT dilanda 12 jenis ancaman bencana.

Ancaman bencana dimaksud yakni banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan gunung api, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, likuefaksi, dan pandemi.

Baca Juga :  Bupati Edi Ingatkan Budaya Kerja Tim DPMPTSP, Tidak Ada yang Supermen

Sedangkan siklon tropis seroja yang terjadi pada April 2021, terdampak pada 21 kabupaten/kota, minus Kabupaten Sumba Barat Daya. Siklon tropis seroja itu mengakibatkan terjadi banjir, gelombang laut tinggi, tanah longsor, angina kencang, hujan lebat disertai petir/kilat, dan abrasi.

Ia menambahkan, tekad BPBD NTT pada penanggulangan risiko bencana berbasis pembangunan berkelanjutan, antara lain mendorong kepedulian dan keberpihakan Pemerintah dalam menerapkan langkah-langkah pengurangan resiko bencana berbasis pembangunan yang berkelanjutan; mereformasi birokrasi dalam merelevansikan perencanaan, regulasi, integrasi, sistem kelembagaan, kemitraan dan akuntabilitas kelembagaan yang kokoh; dan memperkuat tekad Pemerintah untuk lebih berpihak dan peduli kepada masyarakat yang terdampak akibat bencana.

“Membangun kolaborasi Pentahelix yang kokoh antar pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/ kota, TNI- Polri, lembaga non pemerintah/ profesi, pelaku usaha/bisnis, akademisi, media dan masyarakat untuk mengintegrasikan program prioritas penanggulangan bencana berbasis pembangunan berkelanjutan di daerah,” terang Syafrudin.

Ketua Divisi Advokasi Walhi NTT, Kelvin Wuran menekankan perlu kajian pemetaan tata ruang yang jelas untuk mitigasi bencana. Pemerintah perlu melakukan kajian terhadap pembangunan berskala besar yang berdampak ekologi. Ironisnya, pemerintah memberi karpet merah untuk investor.*

Penulis : Leo Ritan

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

PDI Perjuangan NTT Dorong Pemerintah Melakukan Pemulihan Infrastruktur Dampak Gempa Flores
Andi Opa Gaul, YPCI dan Forum Pemuda NTT Disalurkan Bantuan Gempa, Jangkau Wilayah Terpencil
BPBD Ngada Sebut 82,26 Persen Paket Bantuan Telah Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa
Dekatkan Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan di Kawasan Terdampak Gempa Flores, PDIP Siagakan Rumah Sakit Apung di Pelabuhan Kedindi Reok
SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China
Korban Meninggal Gempa Flores di Sikka 6 Orang, 4.937 Rumah Alami Kerusakan
Korban Meninggal Gempa Flores Capai 127 Orang, 166 Ribu Masih Mengungsi
Djafar Achmad Galang Bantuan dari Pensiunan Pelindo Bantu Korban Gempa Flores di Ende
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 21:43 WITA

PDI Perjuangan NTT Dorong Pemerintah Melakukan Pemulihan Infrastruktur Dampak Gempa Flores

Sabtu, 5 September 2026 - 19:12 WITA

Andi Opa Gaul, YPCI dan Forum Pemuda NTT Disalurkan Bantuan Gempa, Jangkau Wilayah Terpencil

Sabtu, 5 September 2026 - 18:36 WITA

BPBD Ngada Sebut 82,26 Persen Paket Bantuan Telah Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa

Sabtu, 5 September 2026 - 13:19 WITA

SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China

Sabtu, 5 September 2026 - 12:03 WITA

Korban Meninggal Gempa Flores di Sikka 6 Orang, 4.937 Rumah Alami Kerusakan

Berita Terbaru