MAUMERE, FLORESPOS.net-Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago melaksanakan kegiatan coffee morning dengan mengundang segenap awak media guna membahas masalah kebersihan dan sampah di Kabupaten Sikka khususnya Kota Maumere.
Kegiatan yang berlangsung di lantai 3 gedung Kantor Bupati Sikka, Senin (9/2/2026) tersebut dihadiri oleh seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sikka Ambrosius Peter membuka kegiatan dengan memaparkan program Rumah Bersih, Redukasi Sampah Berbasis Rumah Tangga.
Peter menyebutkan, setiap harinya dihasilkan 48 ton sampah oleh warga Kabupaten Sikka dengan jenis sampah terbanyak yakni sisa makanan sebanyak 40 persen diikuti oleh sampah plastik 20 persen serta ranting kayu 13 persen kertas 11 persen.
“Persentase sampah terbanyak dihasilkan oleh rumah tangga sebesar 51 persen disusul oleh kawasan dan pasar masing-masing 12 persen serta perniagaan 11 pesen dan fasilitas publik 7 persen,” paparnya.
Peter menambahkan, sarana dan pra sarana pengangkutan sampah yang dimiliki oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka yakni truk sampah sebanyak 6 unit dan amrol 2 unit.
Selain itu tambah dia, kendaraan roda 3 ada 5 unit, Tempat Pembuangan Sampah (TPS) kontener 32 unit serta TPS permanen berjumlah 48 unit.
Lanjutnya, Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia di DLH Sikka berjumlah 102 orang terdiri dari penyapu jalan sebanyak 30 orang, petugas pengangkut sampah dan sopir ada 57 orang.
“Terdapat 12 orang retributory serta pengawas sebanyak 3 orang sehingga dengan kondisi yang ada, SDM yang tersedia masih sangat terbatas,” ucapnya.
Peter mengatakan, permasalahannya karena daya angkut sampah masih rendah sementara penyebabnya volume sampah tinggi khususnya sampah rumah tangga. Selain itu ucap dia, belum adanya pemilahan sampah dari rumah tangga, sekolah, kantor, toko dan lainnya.
Dia menjelaskan kenapa proses pemilahan dimulai dari rumah tangga, karena lebih dari setengah aktifitas sampah berasal dari rumah tangga.
“Apabila setiap rumah tangga memilah dan mengurangi sampah maka jumlah sampah akan berkurang besar.Perubahan kecil dari rumah bisa berdampak besar bagi lingkungan,” tuturnya.
Peter menyarankan adanya kolaborasi multi pihak untuk pengolahan sampah di Kota Maumere sebab hal ini penting karena sampah adalah masalah perilaku bukan hanya fasilitas.
Ia menambahkan, pemerintah memiliki keterbatasan sumber daya dan perubahan hanya bisa terjadi apabila masyarakat terlibat.
Dijelaskannya, peran pemerintah daerah sebagai regulator dan fasilitatro yakni menyediakan TPS dan gerobak sampah, menetapkan aturan dan jadwal angkut serta memimpin koordinasi lintas pihak.
“Pemerintah daerah berperan memastikan sistemnya agar masyarakat mau berpartisipasi.Masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan sampah agar melakukan pemilahan sampah dari rumah,” terangnya.
Masyarakat tegas Peter, harus menjaga kebersihan TPS serta melakukan pengawasan sosial di lorong serta mengolah bank sampah.
Sementara itu tokoh agama dan lembaga keagamaan mengedukasi umat melalui kotbah, tempat ibadah bebas sampah serta sebagai teladan dalam pemilahan sampah.
Dunia usaha berperan sebagai pendukung dan inovator dengan memberikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sarana persampahan dan inovasi pengolahan sampah.
“Dunia usaha memberikan dukungan bagi TPS3R, Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle,” ungkapnya.
Peter menambahkan, pihak kampus, LSM dan komunitas berperan lewat mengedukasi masyarakat dan pendampingan bank sampah serta memonitoring partisipasi warga dan melakukan riset dan inovasi lokal.
Sedangkan media kata dia, berperan sebagai penguat opini dan kesadaran publik lewat kampanye rutin persampahan, publikasi praktik baik dan kontrol sosial sebab perilaku berubah melalui pesan yang terus diulang.
Aksi konkretnya dilakukan lewat pengadaan armada R-3 pengangkut di wilayah padat, pengadaan dan perbaikan kendaraan roda 3, daur ulang sampah anorganik serta menyediakan mesin pencacah.
“Pemilihan sampah dari sumbernya dan sediakan tempat sampah 3 warna. Peningkatan kesadaran warga dilakukan lewat kampanye lewat media serta pengadaan kamera pemantau untuk dipasang di wilayah strategis,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










