ENDE, FLORESPOS.net-Desa Nila, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende adalah salah satu desa di wilayah selatan Ende yang hingga saat ini belum bisa diakses melalui jalan darat.
Transportasi laut menjadi satu – satunya akses menuju desa itu dengan kondisi yang sangat memperhatikan.
Transportasi laut menggunakan kapal motor kayu ukuran dibawa sepuluh Gross Tonnage (GT) milik warga menjadi armada pengangkut utama yang masih beroperasi hingga saat ini.
Di sana tak ada fasilitas dermaga yang layak, warga harus bertaruh nyawa menghitung ombak untuk melompat bersama barang bawaan ke batu – batu dibawa tebing yang mengerikan untuk kembali ke rumah.
Situasi yang lebih menyayat hati terjadi baru – baru ini saat warga mengantar jenazah salah seorang warga Desa Nila dari Kota Ende untuk dimakamkan di sana, Minggu (1/2/2026) lalu.
Perjuangan warga Desa Nila jadi potret buram ketimpangan pembangunan, kebijakan pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah dan negara ini. Warga Nila masih jauh dari kata Merdeka dalam pembangunan infrastruktur dasar.
Pionir KDMP
Satu fakta menarik yang patut diapresiasi. Dalam situasi keterbatasan akses infrastruktur dasar, Pemerintah Desa Nila dan warga menyambut program nasional, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) gagasan Presiden RI, Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa.
Desa Nila adalah salah satu desa bersama lima desa lainnya di Kabupaten Ende yang pertama menghadirkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atas inisiatif pemerintah desa dan warga.
Data dari Dinas Koperasi dan UMKM menyebutkan enam desa itu adalah Wolotopo, Nila, Lisepu’u, Aejeti, Ria Raja dan Ndetundora 3.
Kepala Desa Nila, Aleksius Sado saat dihubungi Florespos.net, Rabu (4/2/2026) terkait KDMP Nila mengatakan bahwa koperasi tersebut hadir atas inisiatif dari pemerintah dan warga.
Saat ini KDMP Nila beroperasi dengan dua skema usaha yaitu penjualan sembako dan simpan pinjam. Modal awal usaha ini dari anggota dan hingga saat ini masih menjalankan usaha di salah satu ruangan gedung kantor desa.
Aleksius mengatakan pemerintah desa dan warga berani mengambil keputusan menghadirkan KDMP Nila karena program tersebut merupakan program nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah keterbatasan akses transportasi.
“Kami hanya menjalankan semampu kami apa yang menjadi instruksi pemerintah pusat dan presiden ditengah keterbatasan akses transportasi”.
Aleksius mengatakan bahwa saat ini KDMP Nila masih menjalani skema bisnis penjualan sembako dalam skala kecil karena kesulitan distribusi barang dari kota ke desa.
“Kami hanya jualan sembako masih dalam jumlah kecil karena kondisi keterbatasan. Gerainya kami manfaatkan satu ruang di kantor desa”.
Ia berharap semangat warga menerima program nasional KDMP tersebut bisa diperhatikan oleh pemerintah.
“Ini adalah bagian dari semangat kami untuk hidup meski dalam keterbatasan akses. Semoga menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah untuk membuka akses infrastruktur jalan di wilayah selatan”.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










