Abnormalitas yang Dinormalisasi - FloresPos Net

Abnormalitas yang Dinormalisasi

- Jurnalis

Jumat, 14 November 2025 - 12:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Agustinus S. Sasmita

TENDENSI manusia untuk beradaptasi merupakan kemampuan bawaan dan sudah teruji dalam periode evolusi di masa lalu. Semula kebutuhan primer manusia hanya terbatas pada sandang, pangan dan papan. Namun, kini ada variabel tambahan dari ketiga kebutuhan dasar itu, yakni kehausan akan pengakuan dari pihak lain.

Ada banyak indikator untuk membuktikan hal tersebut, satu dari antaranya ialah perlombaan menampilkan potret diri di berbagai platform media sosial. Setiap orang bertindak seolah peserta didik yang wajib mengisi presensi setiap memulai pelajaran sebagai konfirmasi kehadirannya.

Tambahan kebutuhan ini tidak luput dari konsekuensi plus-minus. Para penggiat kejahatan diperluas frekuensinya dengan kehadiran teknologi yang menjadi fasilitas berkembang-biaknya berbagai aksi kriminalisasi. Frekuensi ini menjadi validasi atas kebutuhan pengakuan oleh lebih banyak pihak yang notabene seminat.

Baca Juga :  Buruknya Penegakan Hukum dan Urgensitas Pendataan dan Pencegahan TPPO di NTT

Setiap orang bahkan rela terbelenggu dalam kerumunan kelompok tertentu untuk dianggap sebagai individu-individu yang relevan. Kenyataan ini dapat diamati dalam tampilan kasus yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik, yakni bullying dan HIV/AIDS yang kian meningkat.

Kasus-kasus ini merupakan dua variabel yang dari definisinya dikategorikan sebagai unsur yang sama sekali berbeda. Namun, keduanya tampil seolah premis yang merujuk pada kesimpulan yang identik, yakni sebagai dua “problematika kembar” yang lahir dari satu rahim “penyebab” yang sama.

Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang, mencatat hingga September 2025 terdapat sebanyak 2.539 kasus HIV/AIDS.

Dari data tersebut menunjukan kelompok pelajar dan mahasiswa menempati posisi tertinggi sebagai penderita, melampaui jumlah wanita pekerja seks langsung (WPSL) (Jambi-independen.co.id/23/10/2025).

Rincian profesi pengidap HIV/AIDS di Kota Kupang menunjukan bahwa pekerja sewasta menempati urutan pertama sebanyak 889 kasus (35%), disusul oleh ibu rumah tangga sebanyak 406 kasus (16%), selanjutnya pelajar dan mahasiswa 254 kasus (10%), WPSL 203 kasus (8%), dan lain-lain atau profesi yang tidak spesifik sebanyak 432 kasus (17%).

Baca Juga :  Nagekeo: Hakikat Ada yang Belum Tuntas

Lebih mengejutkan lagi, KPAD juga menemukan praktik prostitusi yang melibatkan pelajar tingkat SMP. Dari data yang sama menyampaikan bahwa beberapa pelajar bahkan mengaku melayani 3 hingga 8 orang perhari dengan tarif Rp. 50.000 per transaksi. Sebagian besar dari mereka tidak menggunakan pengaman karena menganggap akan kehilangan pelanggan.

Temuan KPAD ini yang juga didukung oleh data DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang sebelumnya menemukan praktik prostitusi antar-pelajar melalui grup WhatsApp SMP se-Kota Kupang.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial
Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial
Paradoks Pembangunan Pesisir: Menakar Kesiapan Substantif Kampung Nelayan Merah Putih di Bumi Nian Sikka
Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual
Berita ini 146 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Selasa, 14 April 2026 - 09:35 WITA

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Minggu, 12 April 2026 - 09:39 WITA

Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal

Selasa, 7 April 2026 - 20:06 WITA

Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:06 WITA

Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial

Berita Terbaru

Opini

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WITA

Opini

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Selasa, 14 Apr 2026 - 09:35 WITA

Nusa Bunga

Erosi Solidaritas Merusak Kemajuan Kehidupan Berkoperasi

Senin, 13 Apr 2026 - 20:44 WITA