Sherly menambahkan, kualitas produk dari UMKM di Sikka umumnya banyak yang bagus dan mempergunakan bahan lokal seperti abon,keripik, kelor, jahe instan untuk oleh-oleh dan produk makanan lokal, makanan khas yang bagus sekali.
Ia menyebutkan, yang kita lihat saat acara car free night banyak sekali produk bakar-bakaran dan makanan lainnya tapi selama ini yang kita lihat mereka mempergunakan kemasan yang tidak ramah lingkungan.
“Kita memberikan pelatihan agar mereka menggunakan kemasan dari bahan ramah lingkungan,” ucapnya.

Sherly menegaskan, terkait perijinan sangat penting sebab untuk masuk di market seperti grab food, swalayan dan minimarket kita memerlukan ijin baik dari Dinas Kesehatan berupa Produk Industri Rumah Tangga (PIRT).
Selain itu tambahnya ada ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pihaknya mengajarkan, membuat label kemasan yang baik ada penjelasan mengenai komposisi, jenis makannya, merek, tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa.
“Ada keterangan atau informasi mengenai produknya yang ditulis di bagian luar kemasannya,” pesannya.
Fatma Sulastri peserta pelatihan asal Desa Pemana mengatakan apa yang selama ini tidak mereka ketahui mengenai kemasan produk akhirnya bisa diketahui.
Fatma mengaku setiap hari dirinya berjualan kue dan kemasannya saat ini menggunakan plastik sehingga dengan pelatihan ini dirinya bisa membuat kemasan yang lebih menarik lagi.
Menurutnya, dari ilmu yang didapatkan bisa diajarkan kepada ibu-ibu di desanya dan mengajak mereka untuk lebih semangat lagi dan mempromosikan makanan ciri khas dari Pemana.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










