Affan Kurniawan, On Violence dan Homo Vivens - FloresPos Net - Page 2

Affan Kurniawan, On Violence dan Homo Vivens

- Jurnalis

Jumat, 29 Agustus 2025 - 10:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kehidupan manusia adalah puji-pujian tertinggi bagi Sang Pencipta, dan setiap kebijakan publik harus berakar pada penghormatan terhadap kehidupan sebagai nilai utama. Dan, kita sebagai masyarakat tentu tidak hanya berduka.

Kita terus diajak untuk selalu bertindak demi menjaga kesucian hidup sebagai bentuk ibadah yang paling nyata. Sebab setiap nyawa yang terabaikan adalah peringatan bahwa kita belum cukup bersuara.

Setiap tubuh yang terluka di jalanan adalah seruan agar kita tak lagi diam. Dan setiap kehilangan seperti Affan Kurniawan adalah panggilan untuk menjadikan keadilan bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang hidup dalam tindakan nyata.

Baca Juga :  P o k i r

Jakarta kehilangan satu cahaya kecil. Kita pun kehilangan. Affan Kurniawan, anak muda yang hanya ingin pulang. Tapi pulangnya bukan ke rumah. Melainkan ke pangkuan tanah, terlalu cepat, terlalu sunyi.

Dari luka ini, kita tak boleh diam. Dari tubuh yang hancur, harus lahir keberanian. Keberanian yang bukan marah, tapi bermakna. Keberanian untuk menuntut sistem yang manusiawi. Yang tak melihat rakyat sebagai ancaman. Yang tak membalas suara dengan roda besi.

Baca Juga :  Glokalisasi, Pasar yang Terancam dan Nafas Hidup Pedagang Kecil

Kita butuh pendidikan etis bagi mereka yang berseragam. Agar mereka tahu: warga bukan musuh. Warga adalah sesama. Adalah saudara. Adalah nyawa yang harus dijaga. Gerakan kita tak boleh dibangun atas kebencian. Tapi atas cinta yang berani. Cinta yang menuntut keadilan. Cinta yang tak takut menyebut nama Affan.

Affan Kurniawan bukan sekadar korban. Ia adalah pengingat. Bahwa negara ada untuk melindungi. Bukan melukai. Dan kita, tak boleh lupa.*

Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran
Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu
Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Berita ini 370 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 21:12 WITA

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:55 WITA

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Berita Terbaru