Kehidupan manusia adalah puji-pujian tertinggi bagi Sang Pencipta, dan setiap kebijakan publik harus berakar pada penghormatan terhadap kehidupan sebagai nilai utama. Dan, kita sebagai masyarakat tentu tidak hanya berduka.
Kita terus diajak untuk selalu bertindak demi menjaga kesucian hidup sebagai bentuk ibadah yang paling nyata. Sebab setiap nyawa yang terabaikan adalah peringatan bahwa kita belum cukup bersuara.
Setiap tubuh yang terluka di jalanan adalah seruan agar kita tak lagi diam. Dan setiap kehilangan seperti Affan Kurniawan adalah panggilan untuk menjadikan keadilan bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang hidup dalam tindakan nyata.
Jakarta kehilangan satu cahaya kecil. Kita pun kehilangan. Affan Kurniawan, anak muda yang hanya ingin pulang. Tapi pulangnya bukan ke rumah. Melainkan ke pangkuan tanah, terlalu cepat, terlalu sunyi.
Dari luka ini, kita tak boleh diam. Dari tubuh yang hancur, harus lahir keberanian. Keberanian yang bukan marah, tapi bermakna. Keberanian untuk menuntut sistem yang manusiawi. Yang tak melihat rakyat sebagai ancaman. Yang tak membalas suara dengan roda besi.
Kita butuh pendidikan etis bagi mereka yang berseragam. Agar mereka tahu: warga bukan musuh. Warga adalah sesama. Adalah saudara. Adalah nyawa yang harus dijaga. Gerakan kita tak boleh dibangun atas kebencian. Tapi atas cinta yang berani. Cinta yang menuntut keadilan. Cinta yang tak takut menyebut nama Affan.
Affan Kurniawan bukan sekadar korban. Ia adalah pengingat. Bahwa negara ada untuk melindungi. Bukan melukai. Dan kita, tak boleh lupa.*
Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende
Halaman : 1 2










